Perjalanan Bagaimana Nujula Rahma Menemukan Personal Branding Dirinya Sendiri

0
43

Hai, namaku Nujula Rahma. Banyak orang memanggilku dengan berbagai nama: ada yang memanggil Rara, Jula, Rahma, bahkan Ula. Aku lahir di Tasikmalaya, dan di sini aku ingin bercerita tentang diriku—tentang perjalanan yang penuh rasa gagal, pencarian jati diri, dan kebingunganku menemukan personal branding.

Aku lahir di keluarga yang sederhana. Meski begitu, kedua orang tuaku tidak pernah menuntutku untuk menjadi seseorang yang sempurna. Mereka selalu mendukungku dalam banyak hal, selama itu membawa kebaikan dan masa depan yang baik. Tapi justru karena dukungan itu, aku sering merasa takut mengecewakan. Aku merasa gagal berkali-kali, sehingga aku tidak tahu arah sebenarnya dalam hidupku, bahkan untuk sekadar menentukan personal branding.

Namun pelan-pelan aku belajar bahwa merasa gagal bukan berarti kalah. Itu hanyalah bagian dari proses menjadi diri yang lebih baik. Aku mulai menyadari bahwa perjalanan mencari diri sendiri tidak harus tergesa-gesa—cukup dinikmati, dipahami, dan dijalani satu langkah demi satu langkah.

Ini Cerita Terpurukku

Dulu, saat aku masih bersekolah di Sekolah Dasar, aku sering mengalami perundungan. Di usiaku yang masih kecil, aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa ketika orang lain merundungku. Itu bukan peristiwa sehari dua hari—melainkan berlangsung selama tiga tahun, dari kelas 4 hingga kelas 6.

Perundungan itu terjadi karena beberapa alasan, salah satunya hal yang sebenarnya sederhana dan tidak seharusnya menjadi sebuah masalah: tulisanku yang terlalu rapi dibandingkan teman-teman lain, bukan hanya itu masih banyak lagi. Aku tak pernah menyangka bahwa sesuatu yang seharusnya menjadi kelebihan, justru menjadi alasan untuk menyakitiku. Setiap hari aku pergi ke sekolah dengan perasaan takut, gelisah, dan ingin menyerah. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar dan bertumbuh, berubah menjadi tempat yang membuatku tersiksa dan ketakutan.

Ketika akhirnya aku masuk ke Sekolah Menengah Pertama, pikiranku masih terpaku pada kejadian masa lalu. Trauma itu belum hilang. Aku terus bertanya-tanya dalam hati: apakah aku akan dirundung lagi? apakah aku akan dimusuhi lagi? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku, membuatku takut untuk memulai, takut untuk berinteraksi, bahkan takut untuk kembali ke sekolah.

Aku berusaha tersenyum, tetapi di dalam diriku ada ketakutan yang besar—ketakutan untuk disakiti lagi.

Awal Mula Jula Membuka Lembaran Baru di Hidupnya

Memasuki kelas VII semester 1, rasa takut itu masih sering muncul. Setiap hari aku masih dihantui oleh bayangan masa lalu—ketakutan akan diulanginya perlakuan yang sama, ketakutan akan dirundung lagi, ketakutan menjadi kecil dan tak terlihat.

Namun, saat semester 2 dimulai, sebuah pertanyaan muncul di dalam pikiranku:
“Bagaimana rasanya menjadi ambis?”

Kalimat sederhana itu ternyata menjadi titik balik dalam hidupku. Aku mulai menyadari bahwa aku sudah tidak lagi sekelas dengan mereka—orang-orang yang dulu menertawakanku, mencubitku, dan meninggalkan luka yang membuatku trauma. Dari situ aku mulai mencoba berubah. Aku mulai belajar dengan serius, menjadi ambis, dan menghabiskan waktu siang dan malam untuk memahami hal-hal yang membuatku penasaran. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri: kenapa hal ini bisa terjadi? bagaimana benda ini bekerja? Aku menjadi haus akan pengetahuan.

Dan hasilnya datang di akhir semester: peringkatku naik menjadi juara 3, mengalahkan banyak orang yang dulu merendahkanku. Rasa bangga dan bahagia memenuhi diriku—untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa berharga, merasa berhasil, merasa menang.

Dari pengalaman itu aku belajar satu hal penting:
“Orang lain akan menjatuhkanmu ketika kamu lemah.”

Aku sadar, dulu aku selalu diam dan tidak melawan. Itulah sebabnya mereka dengan mudah meremehkanku, menganggapku pengecut hanya karena sifat pendiamku. Tapi sejak saat itu aku memutuskan untuk berubah—aku ingin menjadi anak yang ceria, berani, dan suka berteman.

Ada satu kalimat motivasi yang terus menguatkanku sampai sekarang:

“Orang lain tidak akan peduli tentang kamu. Kamu memakai pakaian lusuh atau mahal pun, mereka akan lupa dalam 5 menit.”

Kalimat itu membuatku sadar bahwa aku tidak perlu takut untuk berekspresi. Jika orang lain tidak peduli, mengapa aku harus takut untuk menunjukkan kemampuan yang aku punya? Mengapa aku harus terus bersembunyi jika aku dilahirkan untuk menjadi seseorang yang berarti?

Dan sejak saat itu, aku berjanji pada diriku sendiri:
Aku akan berani. Aku akan tumbuh. Aku akan menjadi versi terbaik dari diriku.

Cerita Bagaimana Jula Menemukan Personal Brandingnya

Banyak sekali hobi yang aku punya: mulai dari menggambar, menulis cerpen, memasak, jalan-jalan, bermain game, hingga bereksperimen membuat website sederhana. Akhir-akhir ini, setelah masuk SMK, aku merasa semakin tertarik untuk belajar dunia web. Aku belajar dari YouTube dan bantuan AI, tidak hanya mengandalkan pelajaran sekolah saja.

Namun, memiliki banyak hobi membuatku bingung harus mengembangkan yang mana. Aku butuh waktu lama untuk memutuskan arah yang benar-benar ingin aku tekuni. Sampai akhirnya aku menyadari satu hal penting: aku tidak perlu memilih hanya satu. Aku bisa menggabungkan semuanya menjadi satu kekuatan yang unik.

Aku bisa menggambar, aku bisa menulis, dan aku punya ilmu cara membuat website. Dari situ aku mulai membayangkan sesuatu yang lebih besar: bagaimana jika aku membuat website yang berisi karya-karyaku sendiri? Sebuah ruang digital untuk menampilkan ilustrasi, cerpen, resep makanan, dan mungkin juga blog perjalanan serta review game. Semuanya bisa menjadi bagian dari identitas dan personal branding milikku.

Aku ingin menciptakan platform yang bukan hanya menunjukkan hobi, tetapi juga menceritakan perjalanan dan perkembangan diri. Aku percaya bahwa setiap kemampuan yang aku miliki bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi bagian dari satu tujuan besar: menjadi seseorang yang bisa berkarya dan menginspirasi melalui kombinasi kreativitas dan teknologi.

Tidak apa-apa memulai pelan, yang penting terus bergerak. Karena aku percaya suatu hari nanti, semua yang aku lakukan akan menjadi jalan menuju mimpi yang lebih besar.

Previous articleTips Menghindari Cedera Saat Bermain Futsal – Panduan Lengkap dari Acep Rendi Prayoga
Next articleSehat Fisik, Tegas Mental
Nujula Rahma
Nujula Rahma adalah seorang penulis dan pecinta dunia teknologi yang memiliki antusiasme tinggi terhadap perkembangan software dan inovasi digital. Dikenal sebagai pribadi yang ceria, dan selalu siap terhadap pembelajaran baru, Nujula terus mengembangkan kemampuan dirinya di bidang teknologi, terutama pada sistem dan aplikasi berbasis software yang dapat membantu mempermudah kehidupan masyarakat modern. Kecintaannya pada dunia teknologi mendorongnya untuk terus mengikuti tren dan perkembangan terbaru, baik melalui riset mandiri maupun eksplorasi langsung terhadap berbagai platform dan perangkat digital. Baginya, teknologi adalah ruang kreatif yang tidak hanya mempermudah pekerjaan manusia, tetapi juga membuka peluang inovasi tanpa batas. Selain aktif di dunia teknologi, Nujula Rahma juga dikenal sebagai seorang penulis yang produktif dalam menciptakan karya cerpen. Melalui tulisan-tulisannya, ia mampu menyampaikan pesan, nilai, dan emosi yang menyentuh pembacanya. Gaya bahasa yang mengalir dan imajinatif menjadi ciri khasnya dalam berkarya. Bagi Nujula, menulis adalah media untuk mengekspresikan pikiran, pengalaman, dan empati. Sedangkan teknologi adalah wadah untuk menciptakan masa depan yang lebih efektif dan kreatif. Kombinasi keduanya menjadikan dirinya sosok yang inspiratif dan terus tumbuh dalam dunia digital dan literasi. Dengan semangat belajar yang tidak pernah padam, Nujula Rahma terus mengembangkan diri, berkontribusi dalam dunia penulisan, serta mengejar impiannya untuk menciptakan karya-karya bermanfaat, baik dalam bentuk tulisan maupun teknologi.