Menemukan Identitas Diri di Dapur: Perjalanan Saya dalam Dunia Memasak
Haii! Aku Putri Salwa Gunadi, pecinta kuliner dengan hobi memasak, menjadikan setiap hidangan sebagai cara untuk mengekspresikan diri dan membangun personal branding di dunia kuliner.
Beberapa tahun lalu, saya sering merasa “biasa-biasa saja.” Saat melihat orang lain memiliki keahlian yang menonjol, saya justru bingung tentang apa yang benar-benar menjadi kekuatan saya. Meski saya suka memasak, hobi itu saya anggap hal yang tidak terlalu istimewa karena semua orang juga bisa memasak.
Namun, rasa bingung itu berubah menjadi tekanan ketika mulai dituntut untuk mengenal diri sendiri lebih dalam—baik untuk sekolah, pekerjaan, maupun sosial media. Banyak orang bertanya:
-
“Kamu itu passion-nya apa?”
-
“Apa yang benar-benar menggambarkan diri kamu?”
-
“Apa sih keunikan kamu?”
Pada titik itu, saya sadar bahwa saya butuh sesuatu yang bisa membedakan diri saya dari yang lain.
Saya mulai menyadari bahwa saya memerlukan identitas yang nyata, bukan sesuatu yang dipaksakan. Saya tidak ingin menciptakan persona palsu hanya untuk terlihat menarik. Saya ingin menemukan hal yang benar-benar saya nikmati, saya perjuangkan, dan saya bisa kembangkan dalam jangka panjang.
Dari proses itu, saya menemukan beberapa kebutuhan:
✔️ Sebuah kegiatan yang benar-benar saya cintai
Karena identitas jangka panjang tidak bisa dibangun dari sesuatu yang setengah hati.
✔️ Sebuah keahlian yang bisa terus berkembang
Saya butuh sesuatu yang bisa dipelajari terus menerus tanpa batas.
✔️ Sebuah hal yang bisa tersampaikan ke banyak orang
Agar bisa menjadi personal branding, aktivitas tersebut harus mampu dibagikan, dilihat, dan dirasakan oleh orang lain.
Dan akhirnya, saya menemukan kembali sesuatu yang dulu saya anggap biasa: memasak.
Saat kembali mencoba memasak dengan serius, saya menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak saya sadari:
-
Saya selalu antusias mencoba resep baru.
-
Saya bisa menghabiskan berjam-jam di dapur tanpa terasa capek.
-
Saya suka mengutak-atik bahan untuk menciptakan rasa yang berbeda.
-
Saya merasa damai dan fokus ketika memasak.
Dari sanalah saya mulai mengembangkan ciri khas saya sendiri:
-
Masakan rumahan modern
-
Bumbu simpel, rasa maksimal
-
Fokus pada makanan yang meaningful: makanan yang punya cerita
Dapur bukan hanya tempat memasak—tapi tempat saya mengenal diri sendiri.
Saat saya mulai membagikan proses memasak, cerita di balik setiap resep, dan filosofi saya tentang makanan, saya melihat respons yang luar biasa positif.
Ternyata banyak orang yang:
-
merindukan masakan rumahan,
-
ingin belajar masak cepat tapi tetap enak,
-
butuh inspirasi memasak yang relate dengan kehidupan sehari-hari.
Perlahan, memasak tidak hanya jadi hobi, tapi juga identitas diri yang kuat.
Saya mulai dikenal teman, keluarga, dan followers sebagai:
“Orang yang masakannya enak, simpel, dan punya cerita.”
Itulah titik ketika personal branding saya mulai terbentuk dengan alami.
Apa yang membuat perjalanan ini mudah berkembang dan viral?
✨ 1. Memasak itu universal
Semua orang makan, sehingga cerita tentang makanan sangat mudah diterima.
✨ 2. Mengangkat momen emosional
Masakan yang mengingatkan masa kecil, aroma dapur keluarga, atau perjuangan belajar masak—semua itu dekat dengan hati banyak orang.
✨ 3. Konten proses lebih menarik daripada hasil
Orang senang melihat perjalanan, bukan hanya kesempurnaan.
“Dari gagal jadi jago” adalah konten yang cepat menyebar.
✨ 4. Kesederhanaan yang relatable
Menu murah, masakan rumahan, dan tips dapur sederhana selalu punya peluang viral lebih besar dibanding resep yang terlalu mewah.
Dengan menggabungkan authentic storytelling + visual makanan + kepribadian saya sendiri, identitas saya perlahan membentuk sebuah brand yang semakin kuat.
Kesimpulan
Perjalanan menemukan identitas diri di dapur mengajarkan saya bahwa:
-
Hal yang kita anggap biasa bisa jadi keunikan terbesar kita.
-
Personal branding terbaik adalah yang lahir dari kesukaan dan ketulusan.
-
Dapur adalah tempat saya bertumbuh, bercerita, dan berbagi.
Dan perjalanan ini masih terus berlanjut—dengan lebih banyak resep, lebih banyak cerita, dan lebih banyak rasa yang ingin saya bagikan.




