Pernah nggak, kamu buka Figma, semangat banget mau bikin sesuatu… tapi ujung-ujungnya hasilnya mirip lagi sama referensi yang tadi kamu lihat?

Tenang — itu fase yang hampir dialami semua desainer.
Masalahnya bukan kamu kurang kreatif. Justru sebaliknya: kamu masih ada di tahap belajar visual language.

Banyak orang mikir style itu bakat.
Padahal kenyataannya, style itu kebiasaan yang dikurasi.

Dan kabar baiknya: bisa dilatih.

Kenapa Kita Sering “Niru Tanpa Sadar”

Otak manusia bekerja dengan pattern recognition.
Setiap hari kamu lihat desain di:

  • Dribbble

  • Pinterest

  • Instagram

  • Landing page startup

  • Template Figma

Tanpa sadar, otak menyimpan pola.

Jadi waktu kamu desain, yang keluar bukan ide baru — tapi ingatan visual paling kuat yang terakhir kamu lihat.

Makanya hasil desain sering terasa:

bagus… tapi kayak pernah lihat.

Ini normal. Tapi kalau terus begini, portfolio kamu jadi susah dibedain dari orang lain.

Style Bukan Ditemukan, Tapi Dibangun

Banyak pemula nunggu “style muncul sendiri”.
Padahal style itu hasil dari 3 hal:

  1. Preferensi visual

  2. Kebiasaan keputusan kecil

  3. Batasan yang kamu pilih sendiri

Jadi bukan soal kamu harus beda banget.
Tapi kamu harus konsisten beda di hal kecil.

Langkah 1 — Berhenti Cari Inspirasi Terlalu Dekat

Kesalahan umum:
Butuh inspirasi desain aplikasi → lihat aplikasi lagi.

Akhirnya hasilnya ya muter di situ.

Coba ganti sumber referensi:

Kamu Desain Jangan Lihat Lihat Ini
UI App UI App lain Poster, majalah, arsitektur
Landing page Website SaaS Editorial layout
Mobile app Template figma Packaging design

Semakin jauh referensi → semakin unik hasilnya.

Langkah 2 — Tentuin Preferensi Visual Kamu

Buka 20 desain yang kamu suka.
Bukan yang bagus — tapi yang kamu suka.

Lalu jawab:

  • Kamu sering pilih warna soft atau kontras?

  • Lebih suka rounded atau sharp?

  • Lebih lega atau padat?

  • Lebih text heavy atau visual heavy?

Tulis.

Di situ mulai kelihatan polanya.
Itu cikal bakal style kamu.

Langkah 3 — Pakai “Constraint”

Desainer tanpa batasan = gaya berubah-ubah.

Pilih aturan tetap, misalnya:

  • Border radius selalu 12px

  • Tidak pakai lebih dari 2 font

  • Spacing kelipatan 8

  • Tidak pakai lebih dari 3 warna utama

  • Semua icon stroke, bukan fill

Constraint bikin desain kamu konsisten.
Konsistensi → terbaca sebagai style.

Langkah 4 — Jangan Mulai dari Warna

Kebanyakan orang mulai desain dari palette.
Makanya style mereka gampang berubah.

Coba urutan ini:

  1. Layout dulu

  2. Spacing

  3. Hierarchy

  4. Typography

  5. Baru warna

Kalau layout kamu kuat, desain tetap terasa “kamu” bahkan saat warnanya beda.

Langkah 5 — Latih Mata, Bukan Skill Tools

Banyak yang terlalu fokus belajar shortcut.
Padahal style datang dari keputusan, bukan kemampuan klik.

Latihan paling efektif:

Redesign tanpa melihat ulang referensi.

Lihat sekali → tutup → buat ulang dengan ingatan.

Hasilnya pasti beda.
Nah, beda itulah mulai jadi ciri kamu.

Tanda Style Kamu Mulai Kebentuk

Kamu akan sadar ketika:

  • Orang bilang: “Ini kayak desain kamu”

  • Kamu nggak bingung mulai dari mana

  • Desain beda topik tapi terasa satu keluarga

  • Kamu lebih cepat ambil keputusan visual

Itu bukan kebetulan.
Itu hasil repetisi.

Kesalahan yang Bikin Style Nggak Pernah Muncul

Beberapa kebiasaan yang sering bikin stuck:

1. Gonta-ganti gaya tiap project
Portfolio jadi kayak kumpulan template.

2. Terlalu banyak lihat referensi sebelum desain
Otak kamu penuh suara orang lain.

3. Fokus tren, bukan preferensi
Tren berubah, style bertahan.

4. Nunggu pede dulu baru konsisten
Padahal konsisten dulu baru pede.

Jadi, Kapan Punya Style?

Bukan saat kamu nemu sesuatu baru.
Tapi saat kamu mengulang pilihan yang sama cukup lama.

Style bukan loncatan.
Dia jejak.

Semakin sering kamu desain, semakin kelihatan arahmu.
Dan pelan-pelan, orang bisa kenal karya kamu bahkan tanpa lihat nama.

baca artikel sebelumnya:

Perbedaan UI Designer, UX Designer, dan Product Designer: Mana yang Cocok Buat Kamu?