Kedengarannya kejam, tapi ini nyata.
HR atau recruiter sering cuma butuh sekitar 30 detik pertama buat memutuskan:
-
Lanjut lihat portfolio kamu
atau -
Tutup dan pindah ke kandidat berikutnya
Bukan karena mereka jahat.
Tapi karena mereka lihat ratusan portfolio dalam satu waktu.
Pertanyaannya sekarang:
Kalau portfolio kamu dibuka 30 detik, apa yang langsung terlihat?
1. HR Tidak Baca, Mereka Scan
Banyak desainer nulis panjang banget di case study.
Cerita dari awal sampai akhir.
Masalahnya: HR jarang baca dulu.
Mereka scan.
Yang mereka cari cepat:
-
Tampilan visual bersih atau tidak
-
Struktur jelas atau tidak
-
Case study berantakan atau rapi
-
Ada proses atau cuma hasil akhir
Kalau dalam 10 detik pertama tampilannya sudah membingungkan, kemungkinan besar mereka nggak lanjut.
2. Hero Section Kamu Menentukan Nasib
Begitu portfolio dibuka, yang terlihat duluan biasanya:
-
Nama
-
Role
-
Headline
-
Project pertama
Kalau headline kamu cuma:
“Welcome to my portfolio”
Itu terlalu umum.
Coba lebih spesifik:
-
UI/UX Designer fokus fintech
-
Product Designer dengan pendekatan research-driven
-
UX Designer dengan pengalaman 10+ usability testing
HR suka kejelasan.
3. Project Pertama Harus yang Terkuat
Kesalahan klasik:
Project terbaik malah ditaruh di bawah.
Ingat, orang belum tentu scroll sampai bawah.
Taruh project paling kuat di paling atas.
Bukan project pertama yang kamu buat, tapi project paling matang.
4. Terlalu Banyak Visual Tanpa Cerita
Ada juga kebalikannya.
Portfolio penuh mockup keren:
-
iPhone mockup
-
Dribbble style
-
Gradient cakep
Tapi tidak ada penjelasan:
-
Masalah apa yang diselesaikan?
-
Kenapa layoutnya begitu?
-
Apa hasilnya?
HR ingin tahu cara berpikir kamu, bukan cuma kemampuan klik Figma.
5. Case Study Terlalu Panjang dan Berat
Di sisi lain, ada juga yang terlalu detail.
Semua ditulis:
-
Research 10 halaman
-
Persona panjang banget
-
Flow diagram ribet
Padahal yang penting adalah:
-
Ringkas
-
Jelas
-
Mudah dipahami
Ingat: 30 detik pertama itu menentukan.
6. Visual Hierarchy Portfolio Kamu
Ironisnya, banyak desainer UI/UX yang portfolio-nya sendiri nggak punya hierarki jelas.
Kalau:
-
Font semua mirip
-
Heading nggak dominan
-
Spacing berantakan
Itu sudah jadi red flag kecil.
Portfolio kamu adalah contoh langsung skill kamu.
7. Tidak Ada Angka atau Dampak
Kalimat seperti:
“Improved user experience”
Bagus, tapi terlalu umum.
Coba tambahkan:
-
Mengurangi bounce rate 20%
-
Meningkatkan conversion 15%
-
Mengurangi waktu task completion
Angka bikin portfolio terasa nyata.
8. Terlalu Template
HR bisa tahu mana portfolio template.
Kalau:
-
Layout mirip banget sama Notion template
-
Semua pakai struktur copy-paste bootcamp
-
Case study formatnya identik
Kamu jadi sulit dibedakan.
Template boleh, tapi personalisasi itu wajib.
Jadi, Apa yang Harus Kamu Lakukan?
Coba buka portfolio kamu sekarang.
Lihat selama 30 detik.
Tanya:
-
Apakah jelas saya siapa?
-
Apakah langsung terlihat saya bisa apa?
-
Apakah project pertama cukup kuat?
-
Apakah mudah dipindai (scan)?
Kalau jawabannya ragu-ragu, berarti masih bisa diperbaiki.
Cara Bikin 30 Detik Itu Jadi Kuat
Beberapa tips cepat:
✔ Gunakan headline yang spesifik
✔ Taruh project terbaik di atas
✔ Ringkas case study (jangan novel)
✔ Perjelas hierarki visual
✔ Tambahkan dampak / angka
✔ Gunakan spacing yang lega
Sederhana, tapi sering diabaikan.
Kesimpulan
HR bukan menilai kamu dalam 30 detik.
Mereka menilai apakah kamu layak dilihat lebih dari 30 detik.
Portfolio bukan soal paling keren.
Tapi soal paling jelas.
Dan kejelasan selalu menang dari keramaian.
baca artikel sebelumnya:
Desain Kamu Terasa “Sepi”? Biasanya Karena Ini, Bukan Warnanya





