More
    HomeARTIKEL PERSONAL BRANDINGKenapa Musik Menjadi Bagian Penting dalam Ketika Playlist Menjadi Rumah? oleh Naa'ilah

    Kenapa Musik Menjadi Bagian Penting dalam Ketika Playlist Menjadi Rumah? oleh Naa’ilah

    Kalau ada satu hal yang paling dekat dengan cerita Ketika Playlist Menjadi Rumah, mungkin jawabannya adalah musik.

    Sejak awal membuat cerita ini, saya memang ingin musik bukan hanya menjadi sesuatu yang sekadar disebutkan oleh tokoh utama. Saya ingin musik terasa seperti bagian dari kehidupan Naya. Sesuatu yang selalu ada ketika dia sedang senang, bingung, kesal, takut, atau bahkan ketika dia tidak tahu harus bercerita kepada siapa.

    Itulah alasan kenapa saya memilih musik sebagai salah satu bagian penting dalam Ketika Playlist Menjadi Rumah.

    Bagi saya, musik punya cara yang unik untuk menemani seseorang. Kita bisa mendengarkan satu lagu berkali-kali tanpa merasa bosan, lalu tiba-tiba suatu hari lagu yang sama terasa berbeda hanya karena ada kenangan tertentu yang menempel di dalamnya.

    Dan dari situlah cerita ini mulai terbentuk.

    Musik yang Tidak Hanya Menjadi Latar

    Dalam banyak cerita, musik mungkin hanya muncul sebagai pelengkap suasana.

    Misalnya, ada tokoh yang sedang sedih lalu mendengarkan lagu. Atau ada adegan tertentu yang terasa lebih emosional karena ditemani musik.

    Tapi saya ingin melakukan sesuatu yang sedikit berbeda.

    Di Ketika Playlist Menjadi Rumah, musik adalah bagian dari cara Naya memahami dunianya.

    Naya adalah seorang remaja yang hampir selalu menggunakan earphone. Dia punya banyak playlist dengan nama-nama yang mungkin terdengar aneh bagi orang lain. Ada playlist untuk suasana tertentu, perjalanan tertentu, bahkan perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

    Bagi Naya, membuat playlist bukan sekadar mengumpulkan lagu.

    Playlist adalah cara untuk menyimpan perasaan.

    Ada hari ketika dia tidak ingin berbicara dengan siapa pun, tetapi masih ingin mendengarkan sesuatu. Ada saat ketika dia merasa terlalu banyak memikirkan sesuatu dan akhirnya memilih memasang earphone. Ada juga lagu-lagu yang mungkin tidak terlalu istimewa bagi orang lain, tetapi memiliki arti yang sangat besar untuk dirinya.

    Saya suka membayangkan bahwa setiap playlist yang dibuat Naya sebenarnya seperti sebuah ruang kecil.

    Ruang yang hanya dia sendiri yang benar-benar mengerti.

    Bagi Naya, earphone bukan sekadar alat untuk mendengarkan musik. Di sanalah ia menemukan ruang untuk menjadi dirinya sendiri.

     

    Kenapa Playlist?

    Mungkin ada yang bertanya, kenapa harus playlist?

    Kenapa bukan buku harian, chat, atau benda lain?

    Jawabannya sederhana: karena playlist bisa menyimpan banyak hal tanpa harus menjelaskannya secara langsung.

    Ketika seseorang membuat playlist, sebenarnya dia sedang memilih lagu berdasarkan sesuatu. Bisa karena liriknya, melodinya, kenangan yang muncul, atau bahkan hanya karena lagu tersebut terasa cocok dengan suasana hati.

    Kadang kita sendiri juga tidak tahu kenapa memasukkan sebuah lagu ke playlist tertentu.

    Tapi ketika beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian kita mendengarkannya lagi, tiba-tiba kita bisa mengingat kembali siapa diri kita saat membuat playlist itu.

    Itulah hal yang ingin saya bawa ke dalam cerita.

    Playlist dalam novel ini bukan hanya kumpulan lagu. Playlist menjadi semacam jejak perjalanan Naya.

    Ada lagu yang mengingatkannya pada masa ketika semuanya terasa menyenangkan.

    Ada lagu yang mengingatkannya pada seseorang.

    Ada lagu yang awalnya terasa biasa saja, tetapi kemudian memiliki arti baru karena sebuah kejadian.

    Dan ada juga lagu yang akhirnya tidak sanggup dia dengarkan untuk sementara waktu.

    Menurut saya, hal seperti itu sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

    Kita mungkin pernah mendengarkan sebuah lagu dan langsung teringat pada seseorang, tempat, percakapan, atau bahkan versi diri kita sendiri di masa lalu.

    Musik memang aneh dengan cara yang menyenangkan.

    Satu lagu bisa membawa kita kembali ke suatu masa hanya dalam beberapa menit.

    Musik dan Perjalanan Naya

    Dalam cerita ini, hubungan Naya dengan musik juga ikut berubah seiring perjalanan ceritanya.

    Pada awalnya, musik adalah tempat yang nyaman bagi Naya.

    Dia bisa menjadi dirinya sendiri ketika menggunakan earphone. Tidak ada yang memaksanya untuk banyak bicara. Tidak ada yang bertanya kenapa dia diam. Tidak ada yang menyuruhnya menjadi seseorang yang berbeda.

    Musik tidak menuntut apa-apa darinya.

    Tetapi kemudian datang orang-orang dan kejadian-kejadian yang perlahan mengubah cara Naya mendengarkan musik.

    Salah satunya adalah Kael.

    Kael bukan seseorang yang tiba-tiba membuat Naya meninggalkan dunianya. Justru sebaliknya.

    Kael penasaran dengan dunia kecil yang selama ini Naya simpan melalui playlist dan lagu-lagunya.

    Pertanyaan sederhana seperti, “Kamu selalu dengerin lagu yang sama?” akhirnya menjadi awal dari banyak hal.

    Dari situ, musik mulai menjadi penghubung antara Naya dan orang lain.

    Satu earphone bisa menjadi awal sebuah percakapan.

    Satu lagu bisa menjadi alasan untuk saling mengenal.

    Satu playlist bisa menyimpan kenangan yang sebelumnya tidak pernah Naya bayangkan akan terjadi.

    Saya ingin menunjukkan bahwa terkadang seseorang tidak perlu masuk ke dunia kita dengan cara yang besar.

    Cukup dengan mencoba memahami hal kecil yang kita sukai.

    Lalu, Kenapa Disebut “Rumah”?

    Ini mungkin bagian yang paling penting dari judul Ketika Playlist Menjadi Rumah.

    Bagi saya, kata “rumah” dalam judul ini bukan hanya berarti tempat untuk tinggal.

    Rumah bisa berarti tempat di mana kita merasa aman.

    Tempat di mana kita tidak harus berpura-pura.

    Tempat untuk kembali ketika dunia terasa terlalu ramai.

    Dan saya ingin playlist memiliki fungsi seperti itu bagi Naya.

    Ketika semuanya terasa terlalu banyak, dia kembali kepada musik.

    Ketika dia tidak tahu harus mengatakan apa, dia kembali kepada musik.

    Ketika dia ingin mengingat sesuatu, dia kembali kepada musik.

    Playlist menjadi tempat yang tidak pernah bertanya, “Kamu kenapa?”

    Ia hanya menemani.

    Itulah alasan saya memilih kata “rumah”.

    Karena terkadang rumah bukan selalu sebuah bangunan.

    Rumah bisa berupa seseorang.

    Bisa berupa kenangan.

    Bisa berupa sebuah tempat.

    Dan mungkin, bagi sebagian orang, rumah juga bisa berupa sebuah lagu.

    Kadang, rumah bukan tentang tempat. Bisa jadi, rumah adalah sebuah lagu yang selalu tahu bagaimana cara menemani kita pulang.

    Dari Musik Menjadi Cerita

    Saat pertama kali memiliki ide Ketika Playlist Menjadi Rumah, saya tidak langsung memikirkan bagaimana musik harus menjadi pusat dari semuanya.

    Semuanya justru berawal dari sebuah pertanyaan sederhana:

    Bagaimana kalau seseorang menemukan rasa nyaman bukan di tempat, tetapi di dalam lagu-lagu yang selalu dia dengarkan?

    Dari pertanyaan itu, perlahan muncul Naya.

    Lalu muncul playlist-playlist miliknya.

    Kemudian muncul Kael, Keisha, dan orang-orang lain yang membuat perjalanan Naya menjadi lebih panjang.

    Saya mulai membayangkan bagaimana sebuah lagu bisa berubah makna ketika sesuatu terjadi dalam hidup seseorang.

    Lagu yang awalnya terasa menyenangkan bisa menjadi lagu yang membuat kita tersenyum ketika mengingat sebuah kejadian.

    Begitu juga sebaliknya.

    Sebuah lagu yang dulu sering kita dengarkan mungkin bisa terasa terlalu berat untuk diputar lagi karena mengingatkan kita pada masa yang ingin kita tinggalkan.

    Dan menurut saya, di situlah musik menjadi sesuatu yang menarik untuk ditulis dalam sebuah cerita.

    Musik tidak pernah benar-benar berubah.

    Yang berubah adalah kita.

    Kita yang mendengarkannya.

    Kita yang memiliki kenangan di baliknya.

    Bukan Sekadar Cerita Tentang Musik

    Walaupun musik memiliki peran besar dalam Ketika Playlist Menjadi Rumah, sebenarnya cerita ini bukan hanya tentang musik.

    Ini adalah cerita tentang seseorang yang sedang belajar memahami dirinya sendiri.

    Tentang pertemanan.

    Tentang perasaan yang sulit dijelaskan.

    Tentang seseorang yang datang dan perlahan membuat kita melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.

    Tentang kenangan yang suatu hari mungkin terasa menyakitkan, tetapi kemudian bisa kita dengarkan kembali tanpa rasa yang sama.

    Dan tentu saja, tentang proses menemukan arti “pulang” dengan cara kita masing-masing.

    Saya ingin pembaca tidak hanya membaca cerita Naya, tetapi juga menemukan sedikit bagian dari dirinya sendiri di dalam cerita ini.

    Mungkin melalui sebuah lagu.

    Mungkin melalui playlist lama yang sudah lama tidak dibuka.

    Atau mungkin melalui seseorang yang pernah membuat sebuah lagu terasa jauh lebih berarti.

    Untuk Kamu yang Punya Playlist dengan Ceritanya Sendiri

    Kalau kamu punya playlist yang isinya terasa sangat personal, mungkin kamu akan sedikit memahami kenapa musik begitu penting dalam cerita ini.

    Mungkin ada playlist yang kamu buat ketika sedang bahagia.

    Ada playlist untuk perjalanan.

    Ada playlist yang isinya lagu-lagu favorit.

    Atau mungkin ada satu playlist yang sebenarnya tidak pernah kamu ceritakan kepada siapa pun.

    Tidak apa-apa.

    Karena setiap orang punya cara sendiri untuk menyimpan cerita.

    Bagi Naya, caranya adalah melalui musik.

    Dan bagi saya sebagai orang yang menulis ceritanya, musik menjadi cara untuk membuat perjalanan Naya terasa lebih dekat dan lebih manusiawi.

    Pada akhirnya, mungkin itulah alasan sebenarnya kenapa saya memilih musik.

    Karena setiap orang pernah memiliki satu lagu yang terasa seperti rumah.

    Sebuah lagu yang ketika diputar, membuat kita merasa seperti kembali menjadi diri kita sendiri.

    Dan mungkin, Ketika Playlist Menjadi Rumah adalah cerita tentang perjalanan menemukan lagu itu.

    Atau mungkin tentang menyadari bahwa suatu hari nanti, kita akan memiliki lebih dari satu tempat untuk pulang.

    Penasaran bagaimana awal mula Ketika Playlist Menjadi Rumah tercipta? Saya pernah membagikan perjalanan dari sebuah ide sederhana hingga menjadi sebuah buku dalam artikel berikut. Kalau kamu ingin membacanya, kamu bisa klik link di bawah ini 👇🏻: https://pkl.web.id/dari-ide-menjadi-buku-perjalanan-membuat-ketika-playlist-menjadi-rumah-oleh-naailah/

     

    Naailah Naailah
    Naailah Naailahhttps://pkl.web.id
    Saya Naa'ilah, siswi SMKN 1 Anjatan jurusan Desain Komunikasi Visual yang berasal dari Indramayu. Saya tertarik pada dunia content creation dan media sosial. Saya suka mengabadikan berbagai momen dalam kehidupan sehari-hari dan membagikannya melalui konten agar orang lain bisa lebih mengenal saya. Bagi saya, setiap momen sederhana memiliki cerita yang menarik untuk dibagikan.

    Must Read

    spot_img