Di artikel sebelumnya, saya sudah sedikit menceritakan bagaimana awal mula saya membuat buku Kita yang Sedang Tumbuh. Dari kegiatan PKL di PT Kinergi Indonesia, saya mulai mencari ide sampai akhirnya menemukan sebuah cerita tentang seseorang yang sedang berada di fase mencari arah dalam hidupnya.

Dari ide tersebut, saya mulai membuat tokoh utama yang nantinya akan menjalani semua cerita di dalam buku ini.

Namanya adalah Aira.

Lalu, siapa sebenarnya Aira?

Siapa Aira?

Aira adalah seorang anak tunggal yang tinggal bersama Ayah dan Ibunya. Sejak kecil, Aira sebenarnya tumbuh dalam keluarga yang sederhana dan penuh perhatian.

Ayah dan Ibu selalu menyayanginya dengan cara mereka masing-masing. Ketika masih kecil, Aira juga belum terlalu memikirkan banyak hal. Baginya, sekolah, bermain, dan menghabiskan waktu bersama keluarga sudah cukup.

Namun, semakin Aira bertambah besar, banyak hal mulai berubah.

Pertanyaan tentang sekolah mulai muncul.

Kemudian tentang nilai.

Tentang kuliah.

Tentang pekerjaan.

Dan akhirnya tentang masa depan.

Pertanyaan yang awalnya biasa saja lama-lama membuat Aira mulai berpikir lebih jauh.

“Sebenarnya nanti saya mau menjadi apa?”

Masalahnya, Aira sendiri belum tahu jawabannya.

Aira sebagai Anak Tunggal

Saya membuat Aira sebagai anak tunggal karena saya ingin menggambarkan bagaimana rasanya ketika sebagian besar harapan keluarga hanya tertuju kepada satu anak.

Bukan berarti menjadi anak tunggal selalu terasa berat. Aira juga mendapatkan banyak perhatian dan kasih sayang dari Ayah dan Ibunya.

Tetapi ketika mulai memikirkan masa depan, Aira merasa seolah-olah semua harapan tersebut ada di dirinya.

Ia ingin menjadi anak yang membanggakan.

Ia ingin membuat Ayah dan Ibu bahagia.

Ia tidak ingin membuat mereka kecewa.

Karena itu, ketika Aira belum tahu ingin menjadi apa, ia justru merasa semakin takut.

Ia berpikir bahwa seharusnya dirinya sudah memiliki jawaban.

Padahal, sebenarnya ia masih dalam proses mencari tahu.

Hubungan Aira dengan Ayah dan Ibu

Hubungan Aira dengan Ayah dan Ibu sebenarnya cukup dekat.

Ayah dan Ibu bukan orang tua yang jahat atau tidak peduli kepada Aira. Mereka menyayanginya dan ingin Aira memiliki masa depan yang baik.

Hanya saja, terkadang cara orang tua menunjukkan rasa sayang memang bisa berbeda dengan apa yang dirasakan oleh anak.

Misalnya ketika Ayah bertanya tentang rencana Aira setelah lulus atau ketika Ibu bertanya bagaimana sekolahnya.

Bagi orang tua, mungkin itu adalah bentuk perhatian.

Tetapi bagi Aira yang memang sedang bingung dengan masa depannya, pertanyaan tersebut terkadang terasa seperti sebuah tekanan.

Aira pun mulai lebih sering diam.

Ketika ditanya, ia menjawab seperlunya.

“Sudah makan?”

“Sudah.”

“Sekolah bagaimana?”

“Baik.”

“Belajar?”

“Sudah.”

Padahal, sebenarnya masih banyak hal yang ingin ia ceritakan.

Aira hanya belum tahu bagaimana cara menyampaikannya.

Ia takut kalau mengatakan bahwa dirinya bingung, Ayah dan Ibu akan kecewa.

Aira Bukan Anak yang Tidak Bersyukur

Bagian ini menurut saya cukup penting untuk menjelaskan karakter Aira.

Aira bukan anak yang membenci orang tuanya.

Ia juga bukan anak yang tidak bersyukur dengan kehidupannya.

Justru karena ia sangat menyayangi Ayah dan Ibu, ia menjadi takut untuk mengecewakan mereka.

Aira ingin memenuhi harapan mereka.

Tetapi di sisi lain, ia juga mulai memiliki keinginan sendiri.

Masalahnya, ia belum tahu bagaimana cara memilih di antara keduanya.

Ia ingin membuat orang tuanya bangga, tetapi ia juga ingin memiliki kesempatan untuk menentukan hidupnya sendiri.

Dari sinilah konflik Aira mulai terbentuk.

Sebenarnya Aira Takut Apa?

Kalau ditanya apa yang paling Aira takutkan, sebenarnya jawabannya cukup banyak.

Ia takut gagal.

Ia takut salah memilih.

Ia takut mengecewakan orang tua.

Ia takut tertinggal dari teman-temannya.

Ia juga takut kalau pilihan yang ia ambil ternyata salah.

Kadang-kadang, rasa takut tersebut membuat Aira terlalu banyak berpikir.

Sebelum melakukan sesuatu, ia sudah membayangkan kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.

Akibatnya, ia justru semakin sulit untuk mengambil keputusan.

Bukan karena Aira tidak memiliki keinginan.

Tetapi karena ia terlalu takut kalau keinginannya ternyata bukan pilihan yang benar.

Kenapa Aira Bisa Sampai ke Elarion?

Suatu malam, setelah mengalami masalah dengan Ayah dan Ibu tentang masa depannya, Aira memilih masuk ke kamar.

Ia merasa lelah dan ingin melupakan semua hal yang sedang dipikirkannya.

Namun, malam itu justru menjadi awal dari perjalanan Aira.

Pada pukul 00.17, ia mendengar suara ketukan.

Tok.

Tok.

Tok.

Ketika keluar dari kamar, Aira melihat sebuah pintu putih dengan gagang berwarna emas di ujung lorong.

Masalahnya, pintu itu seharusnya tidak ada.

Aira belum pernah melihatnya sebelumnya.

Ketika pintu tersebut terbuka, Aira menemukan sebuah dunia yang sama sekali berbeda dari tempat yang ia kenal.

Dunia itu bernama Elarion.

Awalnya Aira tidak mengerti kenapa dirinya bisa sampai di sana.

Ia bahkan merasa bahwa dirinya tidak tersesat.

Tetapi semakin jauh ia berjalan, Aira mulai menyadari bahwa mungkin ada sesuatu dalam dirinya yang memang sedang ia cari.

Perjalanan Aira di Elarion

Di Elarion, Aira bertemu dengan Elian, seorang pemuda yang kemudian membantunya selama perjalanan.

Aira juga menemukan berbagai tempat yang ternyata berhubungan dengan dirinya sendiri.

Di Kota yang Menyimpan Kenangan, Aira melihat kembali masa kecilnya.

Ia mengingat masa ketika dirinya belum terlalu memikirkan nilai, masa depan, dan berbagai hal yang sekarang membuatnya takut.

Kemudian ia masuk ke Hutan dari Ketakutan.

Di sana, Aira harus berhadapan dengan rasa takut yang selama ini ia simpan.

Untuk pertama kalinya, ia berani mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan.

“Aku takut gagal.”

“Aku takut mengecewakan orang tuaku.”

“Aku takut salah memilih.”

“Aku takut sendirian.”

Dari sana, Aira mulai belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak takut.

Berani berarti tetap mencoba meskipun kita masih merasa takut.

Setelah itu, perjalanan Aira masih berlanjut.

Ia bertemu dengan versi dirinya yang selalu ingin sempurna, melihat kembali masa lalu, sampai akhirnya belajar menerima dirinya sendiri.

Setiap tempat yang ia datangi membuat Aira semakin memahami dirinya.

Perubahan Aira

Di awal cerita, Aira adalah seseorang yang merasa harus selalu memiliki jawaban.

Ia merasa harus tahu ingin menjadi apa.

Ia merasa harus membuat orang tua bangga.

Ia merasa tidak boleh gagal.

Tetapi setelah melalui berbagai kejadian di Elarion, cara pandang Aira mulai berubah.

Ia mulai memahami bahwa tidak semua hal harus langsung diketahui.

Tidak apa-apa kalau dirinya belum tahu ingin menjadi apa.

Tidak apa-apa kalau ia masih mencoba.

Tidak apa-apa kalau suatu saat ia salah memilih dan harus mencoba lagi.

Yang penting, ia tidak terus-menerus memaksa dirinya menjadi seseorang hanya karena takut mengecewakan orang lain.

Aira juga mulai memahami bahwa menjadi anak yang baik tidak berarti harus selalu mengikuti semua keinginan orang lain.

Ia tetap bisa menyayangi keluarganya sambil belajar menentukan jalan untuk dirinya sendiri.

Kenapa Saya Membuat Karakter Aira Seperti Ini?

Saat membuat Aira, saya memang ingin membuat karakter yang tidak langsung sempurna.

Aira masih sering takut.

Masih sering bingung.

Masih suka terlalu banyak berpikir.

Dan masih belajar mengambil keputusan.

Menurut saya, karakter seperti itu lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Karena dalam kehidupan nyata, kita juga tidak selalu tahu harus melakukan apa.

Kadang kita sudah punya rencana, tetapi berubah pikiran.

Kadang kita merasa yakin, lalu tiba-tiba ragu lagi.

Kadang kita melihat teman sudah melangkah lebih jauh dan akhirnya merasa tertinggal.

Hal-hal seperti itu yang saya coba masukkan ke dalam diri Aira.

Jadi, Aira bukan karakter yang dari awal sudah kuat dan tahu semuanya.

Ia justru menjadi kuat karena ia belajar dari semua hal yang ia alami.

Aira dan Kita yang Sedang Tumbuh

Semakin saya mengembangkan karakter Aira, saya merasa bahwa cerita ini memang tidak hanya tentang Aira.

Apa yang dialami Aira sebenarnya bisa saja dialami oleh banyak orang.

Tentang bingung dengan masa depan.

Tentang takut mengecewakan orang tua.

Tentang ingin mencoba sesuatu tetapi takut gagal.

Tentang melihat orang lain sudah memiliki tujuan sementara diri sendiri masih mencari.

Karena itulah saya menggunakan kata “kita” dalam judul buku ini.

Bukan hanya Aira yang sedang tumbuh.

Saya juga masih belajar.

Begitu juga dengan orang-orang yang membaca cerita ini.

Kita semua mungkin sedang berada di tahap yang berbeda, tetapi tetap sama-sama sedang mencari tahu bagaimana cara menjalani hidup kita masing-masing.

Dan mungkin, itu juga yang ingin saya sampaikan melalui Aira.

Kita tidak harus langsung tahu seluruh jalan yang akan kita lewati.

Kita bisa berjalan pelan-pelan.

Bisa mencoba.

Bisa salah.

Bisa berhenti sebentar.

Lalu mencoba lagi.

Karena pada akhirnya, proses tumbuh memang tidak selalu tentang seberapa cepat kita sampai.

Tetapi tentang bagaimana kita belajar mengenal diri sendiri selama perjalanan tersebut.

Dan itulah Aira.

Seorang anak tunggal yang sedang mencari arah, belajar memahami dirinya sendiri, dan mencoba untuk tidak lagi takut dengan masa depan.

Kalau di artikel sebelumnya kita baru mengenal bagaimana Aira muncul dari ide cerita, sekarang kita sudah lebih mengenal siapa Aira dan masalah yang ia hadapi.

Tapi masih ada satu hal yang belum kita bahas lebih jauh:

Dunia seperti apa yang membawa Aira pada perjalanan tersebut?

Di artikel berikutnya, saya akan membahas Elarion, dunia fantasi yang menjadi salah satu bagian penting dalam Kita yang Sedang Tumbuh.

Berikut Artikel lainnya:

Buku Ciptaan Chesa Khansa Labibah “Kita yang Sedang Tumbuh” Begini Awal Mula Ceritanya by Chesa Khansa