Tidak Punya Pengalaman, Tapi Ingin Jadi UI/UX Designer?
Salah satu ketakutan terbesar saat mulai belajar UI/UX adalah:
“Aku belum pernah kerja, bisa bikin portfolio nggak ya?”
Jawabannya: bisa banget.
Faktanya, banyak UI/UX Designer pertama kali masuk industri justru tanpa pengalaman kerja sama sekali. Mereka diterima karena portfolio, bukan karena pengalaman.
Yang penting bukan pernah kerja atau belum, tapi bagaimana kamu menunjukkan cara berpikir desain kamu.
Apa yang Sebenarnya Dicari Recruiter?
Banyak pemula berpikir portfolio harus berisi desain yang “wah” dan penuh efek.
Padahal yang dilihat recruiter bukan cuma visual, tapi:
- cara kamu memahami masalah
- bagaimana kamu mencari solusi
- proses desain dari awal sampai akhir
- alasan di balik setiap keputusan desain
Jadi portfolio bukan sekadar kumpulan gambar, tapi cerita tentang proses desain.
1. Mulai dari Project Sederhana
Kamu tidak perlu langsung membuat aplikasi yang kompleks.
Mulai saja dari project sederhana seperti:
- redesign aplikasi populer
- desain halaman login
- desain landing page
- aplikasi sederhana (to-do list, food app, dll)
Yang penting bukan besar kecil project, tapi jelas prosesnya.
2. Gunakan Studi Kasus (Case Study)
Portfolio UI/UX yang baik biasanya berbentuk case study.
Struktur sederhana yang bisa kamu gunakan:
- Problem (masalah apa yang ingin diselesaikan)
- Research (apa yang kamu pelajari dari user)
- Ideation (solusi yang kamu pikirkan)
- Design (wireframe & UI)
- Testing (hasil atau evaluasi)
Dengan struktur ini, portfolio kamu akan terlihat lebih profesional.
3. Redesign Aplikasi yang Sudah Ada
Kalau bingung mulai dari mana, kamu bisa melakukan redesign aplikasi populer.
Contohnya:
- aplikasi e-commerce
- aplikasi transportasi
- aplikasi media sosial
Coba cari masalah dari aplikasi tersebut, lalu buat solusi versi kamu.
Ini adalah cara yang sering digunakan oleh pemula untuk membangun portfolio.
4. Fokus pada Proses, Bukan Hanya Hasil
Kesalahan yang sering terjadi adalah hanya menampilkan desain akhir.
Padahal recruiter lebih tertarik melihat prosesnya, seperti:
- wireframe awal
- perubahan desain
- alasan memilih layout tertentu
- keputusan UX yang diambil
Semakin jelas proses yang kamu tampilkan, semakin terlihat bahwa kamu memahami UI/UX.
5. Buat Tampilan Portfolio yang Rapi
Selain isi, tampilan portfolio juga penting.
Beberapa tips sederhana:
- gunakan layout yang bersih
- jangan terlalu banyak warna
- gunakan typography yang jelas
- pastikan mudah dibaca
Portfolio yang rapi akan memberikan kesan profesional sejak pertama dilihat.
6. Tidak Perlu Terlalu Banyak Project
Banyak orang berpikir harus punya banyak project.
Padahal lebih baik punya 2–3 project yang kuat daripada 10 project yang biasa saja.
Pastikan setiap project memiliki:
- alur yang jelas
- penjelasan yang lengkap
- desain yang rapi
Kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas.
7. Tampilkan Cara Berpikir Kamu
Ini yang paling penting.
Portfolio bukan hanya tentang desain, tapi tentang cara kamu berpikir sebagai desainer.
Coba jelaskan:
- kenapa kamu memilih solusi tersebut
- kenapa layout dibuat seperti itu
- kenapa warna tertentu digunakan
Hal-hal seperti ini yang membuat kamu terlihat berbeda dari pemula lainnya.
Kesimpulan
Membuat portfolio UI/UX tanpa pengalaman kerja bukan hal yang mustahil.
Justru banyak desainer memulai dari nol dengan membuat project sendiri dan menyusunnya menjadi portfolio yang menarik.
Yang paling penting adalah:
- fokus pada proses
- membuat case study yang jelas
- menunjukkan cara berpikir desain
Dengan portfolio yang baik, peluang untuk mendapatkan kesempatan kerja di bidang UI/UX akan semakin terbuka.
baca artikel sebelumnya:
Cara Membuat Desain UI Terlihat Lebih Modern dan Clean by Fitria Ramadani





