
Beberapa waktu terakhir, aku sering bertanya-tanya dalam hati: bagaimana caranya satu ajakan sederhana bisa mengubah banyak hal dalam hidup seseorang? Kalau bukan aku yang mengalaminya sendiri, mungkin aku juga nggak bakal percaya. Tapi kenyataannya, dari sebuah ajakan spontan teman sekolahku, aku menemukan hobi baru yang ternyata bisa membuat hidupku lebih berwarna: naik gunung.
Sebelum semuanya dimulai, aku bukan tipe orang yang suka kegiatan outdoor. Bukan juga tipe yang athletic banget atau yang tiap minggu jogging tanpa putus. Aku biasa aja. Rutinitasku itu-itu saja: sekolah, tugas, rumah, nongkrong sesekali, dan itu pun bukan yang penuh petualangan. Bisa dibilang hidupku waktu itu cukup stabil, tapi kalau dipikir ulang… stabil tapi datar.
Sampai akhirnya teman-teman sekolah ngajak aku untuk mendaki. Awalnya aku cuma ketawa, “Hah? Aku? Naik gunung?” Bahkan aku sendiri nggak yakin mereka serius atau nggak. Tapi ternyata mereka serius. Mereka ngajak sambil kasih bujukan khas anak sekolah:
“Udah ikut aja, seru banget sumpah.”
“Nggak sesusah itu kok.”
“Kamu pasti bisa lah, masa kalah sama kita.”
Dan entah dorongan apa yang membuatku iya-iya aja menerima ajakan itu. Kayaknya campuran antara pengen buktiin diri, pengen coba hal baru, dan sedikit rasa FOMO karena kalau aku nggak ikut, aku bakal melewatkan cerita seru yang bakal mereka bahas rame-rame nanti.
Malam Sebelum Pendakian: Overthinking Tapi Excited
Saat malam sebelum pendakian, aku mulai merasakan efek dari keputusanku. Aku buka tas berkali-kali, ngecek barang satu per satu seperti orang yang mau pindahan rumah, bukan cuma naik gunung.
Tapi jujur ya, malam itu pikiranku ribut banget. Aku mulai membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang nggak perlu.
“Apa aku bakal jadi yang paling lemah nanti?”
“Apa aku bisa nyampe puncak?”
“Bakal jadi beban nggak ya buat yang lain?”
Tapi di antara semua kekhawatiran itu, ada satu rasa yang lebih besar: rasa pengen tahu.
Aku pengen tahu bagaimana rasanya jalan jauh sambil lihat langit yang beda dari biasanya.
Aku pengen tahu suasana hutan yang sunyi tapi dingin.
Aku pengen tahu gimana caranya orang-orang bisa ketagihan naik gunung.
Dan malam itu, meski deg-degan, aku tidur sambil membawa harapan kecil: semoga besok aku bisa bertahan, menikmati perjalanan, dan pulang bawa cerita.
Saat Kakiku Mulai Melangkah Naik
Waktu kami sampai di basecamp, aku merasa seperti masuk ke dunia lain. Orang-orang dengan carrier besar, sepatu kotor, jaket tebal—semua terlihat lebih “pendaki” daripada aku yang masih merasa seperti anak sekolah yang cuma ikut-ikutan.
Langkah pertama di jalur pendakian terasa berat. Nafasku cepat, lututku agak gemetar, dan otakku sempat bilang, “Balik aja deh.” Tapi tentu aja aku nggak mungkin balik. Harga diri menahan kaki ini buat terus maju.
Yang lucu, teman-temanku justru langsung berubah jadi versi terbaik mereka.
Ada yang sok-sokan jadi guide, padahal dia juga pemula.
Ada yang semangat banget sampai jalannya kayak dikejar sesuatu.
Ada yang dari awal udah minta istirahat.
Dan ada yang terus-terusan bikin suasana cair dengan candaan receh.
Beberapa menit pertama aku nggak banyak ngomong. Aku masih fokus atur napas. Tapi lama-lama, tubuhku mulai menyesuaikan ritme.
Dan di titik itu, aku mulai merasakan sesuatu yang aneh: aku mulai menikmati perjalanan ini.
Cerita Random yang Terjadi Begitu Saja
Yang paling bikin aku jatuh cinta sama kegiatan ini bukan cuma pemandangannya, tapi cerita-cerita random yang terjadi tanpa direncanakan.
Kayak ketika kami berhenti sejenak untuk minum, dan tiba-tiba salah satu temanku bilang, “Guys, bayangin kalau kita nyasar, siapa yang bakal nangis duluan?”
Pertanyaan absurd yang bikin kami ketawa sampai lupa capek.
Atau ketika temanku yang paling lemah fisik… justru paling banyak gaya. Dia foto-foto di jalur curam sambil bilang, “Guys tunggu, ini angle bagus banget.”
Padahal dia yang paling sering teriak, “Tolong, aku mau pingsan.”
Di satu titik, kami semua nyanyi bareng, meskipun lagu yang dipilih random banget. Ada lagu galau, lagu jadul, sampai lagu anak-anak. Dan semua suara campur jadi satu, fals semua, tapi seneng banget.
Dan yang paling aku suka dari momen-momen random itu: aku ngerasa bebas. Bebas dari tuntutan sekolah, bebas dari ekspektasi orang lain, bebas dari penilaian.
Di gunung, semua orang sama-sama capek, sama-sama nggak peduli bentuk rambut, sama-sama nggak peduli muka sudah kayak apa. Yang penting jalan bareng.
Belajar Mengerti Orang Lain dan Menurunkan Ego
Naik gunung mengajarkan aku sesuatu yang mungkin nggak akan aku pelajari kalau hanya berada di kehidupan sehari-hari: bahwa langkah setiap orang itu beda, dan kita harus belajar memahami itu.
Kadang aku yang kelelahan duluan.
Kadang temanku yang lain yang mulai pelan.
Kadang ada yang harus berhenti karena kram.
Dan kadang ada juga yang semangatnya tiba-tiba hilang.
Di situ kami belajar buat bilang, “Ayo pelan-pelan aja, nggak usah buru-buru.”
Kami belajar buat nungguin yang tertinggal.
Kami belajar buat saling menyemangati meski sama-sama capek.
Dan dari situ, aku baru sadar sesuatu: ternyata naik gunung itu banyak membantu menurunkan ego.
Karena di jalur pendakian, kamu nggak bisa mikirin diri sendiri doang. Kamu harus jalan bersama, pulang bersama. Kalau salah satu berhenti, yang lain ikut berhenti. Dan ada kenyamanan tersendiri dari rasa saling mengerti itu.
Saat Puncak Menyambut Aku
Ketika akhirnya kami sampai di puncak, aku merasa dunia berhenti sebentar.
Pemandangannya… luar biasa.
Udara dinginnya… menusuk tapi menenangkan.
Langitnya… seperti sedang membuka tirai untuk kami lihat dari jarak dekat.
Tapi yang paling bikin aku terdiam adalah perasaan dalam diri.
Perasaan yang bilang, “Aku bisa. Ternyata aku sanggup.”
Kalimat itu sederhana, tapi sangat berarti. Karena sebelum naik, aku selalu meragukan diri sendiri.
Di puncak itu, aku merasa ada bagian diriku yang terbuka.
Bagian yang selama ini tertutup ketakutan.
Bagian yang ternyata jauh lebih kuat daripada yang aku pikirkan.
Aku duduk sebentar, tarik napas pelan, dan melihat teman-temanku yang juga tertawa dan foto-foto kayak anak kecil. Dan aku mikir…
“Aku bersyukur banget ikut perjalanan ini.”
Kenapa Aku Jatuh Cinta Sama Naik Gunung
Setelah beberapa kali naik gunung, aku bisa bilang dengan jujur: ini hobi yang aku cintai, meskipun aku masih pemula.
Aku jatuh cinta bukan cuma karena pemandangan di puncak.
Tapi karena perjalanannya.
Karena ceritanya.
Karena proses mengenal diri sendiri.
Aku suka bagaimana naik gunung membuatku lebih peka sama orang lain.
Lebih sabar.
Lebih menghargai proses.
Aku suka bagaimana aku bisa ketawa keras tanpa mikir aneh.
Aku suka bagaimana aku bisa cerita hal-hal random tanpa takut di-judge.
Aku suka bagaimana aku bisa merasa “lepas” dari semua tuntutan hidup sejenak.
Naik gunung itu seperti ruang aman.
Tempat aku belajar, tertawa, capek, tapi berterima kasih pada diri sendiri.
Dan Ini Baru Permulaan…
Sekarang setiap kali aku melihat gunung, bahkan gunung yang pendek, aku ngerasa kayak ada suara lembut yang bilang,
“Ayo, coba lagi. Masih banyak cerita yang belum kamu temukan.”
Aku memang baru beberapa kali mendaki.
Pengalamanku belum banyak.
Tapi rasanya… cukup untuk membuatku tahu bahwa ini bukan sekadar hobi lewat. Ini sesuatu yang membuat aku merasa hidup.
Dan aku nggak sabar buat mendaki lagi.
Buat ketawa lagi.
Buat cerita random baru lagi.
Buat jatuh cinta lagi sama versi diriku yang aku temukan di setiap perjalanan.
Karena satu hal yang aku tahu sekarang:
Gunung bukan cuma tempat tinggi. Gunung adalah guru, teman, dan cermin. Dan aku siap melangkah lagi, kapan pun kesempatan itu datang.





