
Aku tidak pernah menyangka bahwa hidupku akan berubah hanya karena satu ajakan sederhana dari teman sekolah: “Coba naik gunung bareng kita, seru kok.” Awalnya aku menganggap itu hanya ajakan iseng, sama seperti ketika teman-temanku mengajak nongkrong atau jalan ke mal setelah pulang kelas. Namun, ternyata keputusan kecil itu membawa aku ke pengalaman yang lebih luas daripada pemandangan dari puncak mana pun.
Lucunya, aku tidak pernah membayangkan diriku sebagai seseorang yang akan hobi naik gunung. Aku bukan tipe orang yang kuat fisik, dan aku bukan juga orang yang suka berkotor-kotoran atau ribet membawa tas besar. Tapi entah kenapa, saat itu aku mengiyakan saja ajakannya. Mungkin karena aku sedang berada dalam fase ingin mencoba hal baru. Mungkin juga karena aku lelah dengan rutinitas yang selalu terasa sama. Atau mungkin, tanpa aku sadari, aku memang sedang mencari sesuatu—walau aku sendiri tidak tahu apa.
Awal Mula: Sebuah Langkah Kecil yang Mengubah Banyak Hal
Hari itu, ketika kami berangkat, aku sebenarnya agak gugup. Bukan hanya karena belum pernah naik gunung, tetapi juga karena aku takut terlihat lemah. Teman-temanku sudah sering naik gunung; cerita-cerita mereka tentang keindahan sunrise, udara dingin yang menyegarkan, suara dedaunan yang bergesekan di sepanjang jalur—semua itu terdengar seperti dunia baru bagiku.
Saat pertama kali kaki ini menapak jalur pendakian, aku merasakan campuran antara antusiasme dan ketidakpastian. Jalannya menanjak, tanahnya lembap, dan beban tas di punggung terasa berkali-kali lipat lebih berat dari yang kubayangkan. Tapi justru itulah detik pertama aku mengenal versi baru diriku: versi yang mencoba memahami batasannya sambil tetap melangkah.
Setiap kali aku menarik napas panjang, aroma hutan menyelinap masuk, bercampur dengan dinginnya udara pegunungan. Suara burung, gemerisik ranting, langkah kaki teman-temanku—semua hal kecil itu menjadi irama yang menenangkan. Aku mulai menyadari bahwa naik gunung bukan sekadar soal mencapai puncak; ia adalah perjalanan panjang yang dipenuhi cerita, perasaan, dan kejutan yang tidak pernah bisa ditebak.
Perjalanan ke Atas: Tempat di Mana Ego Harus Ditaruh di Saku
Yang paling membuatku jatuh cinta pada pendakian bukan hanya pemandangan atau udara segar, tapi justru proses yang terjadi selama perjalanan. Ada banyak hal yang terjadi tanpa direncanakan. Kadang kami tertawa karena lelah. Kadang kami saling mengingatkan untuk minum. Kadang kami saling menunggu, meski tidak ada yang bilang harus saling menunggu.
Di sinilah aku belajar bahwa naik gunung itu seperti latihan kecil untuk menurunkan ego. Jalur pendakian tidak peduli siapa yang lebih pintar, siapa yang lebih populer di sekolah, atau siapa yang lebih kuat secara fisik. Semua orang sama, semua orang akan lelah, dan semua orang butuh berhenti sesekali.
Aku juga mulai mengerti kenapa orang-orang bilang “temen naik gunung itu beda rasanya.” Karena di perjalanan menanjak itu, kami sering berbagi hal-hal yang tidak pernah diceritakan di bawah. Entah kenapa, suasana hutan membuat kami lebih jujur. Kami saling melempar cerita lucu, curhat kecil, lelucon receh, sampai kejadian-kejadian random yang tidak penting tapi terasa seperti momen paling berharga di dunia.
Ada satu momen yang masih aku ingat jelas: ketika aku hampir menyerah karena napas sudah mulai tersengal. Temanku menepuk bahuku sambil berkata, “Santai aja. Kita nikmatin pelan-pelan.” Kata-kata itu sederhana, tapi anehnya menenangkan. Baru kali ini aku merasa benar-benar dimengerti tanpa harus menjelaskan apa-apa.
Ketika Langit Terbuka: Puncak Bukan Sekadar Titik Tertinggi
Saat akhirnya tiba di puncak, perasaan yang muncul sulit diungkapkan dengan kata-kata. Rasanya seperti kombinasi antara lega, bangga, dan sedikit tidak percaya bahwa aku benar-benar sampai. Langit terlihat lebih luas, angin menepuk wajahku pelan, dan mataku menangkap bentangan alam yang sebelumnya hanya kulihat dari foto.
Yang membuatku terharu adalah ketika aku menoleh dan menemukan semua temanku tersenyum, bukan hanya karena pemandangannya, tapi karena kami sampai bersama. Ada rasa kebersamaan yang lebih kuat dari sekadar foto bareng atau makan rame-rame. Perjalanan itu sendiri seakan menempelkan kami satu sama lain lebih erat dari sebelumnya.
Di puncak itu aku merasakan sensasi baru: aku merasa kecil, tapi untuk pertama kalinya aku tidak keberatan menjadi kecil. Aku merasa menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar—alam, kehidupan, dan diriku sendiri.
Kecanduan Positif: Kenapa Aku Ingin Mengulanginya Lagi dan Lagi
Walaupun aku baru beberapa kali naik gunung, ada sesuatu yang membuatku selalu ingin kembali. Mungkin karena setiap perjalanan memiliki ceritanya sendiri, meski gunungnya sama. Mungkin karena aku merindukan rasa capek yang menyenangkan itu. Atau mungkin aku memang menemukan tempat di mana hatiku merasa tenang.
Aku suka bagaimana pendakian memaksaku keluar dari zona nyaman, memaksaku melambat, memaksaku mendengarkan tubuhku, dan memaksaku memahami orang-orang di sekitarku lebih dalam.
Di tengah perjalanan, kami sering mengalami hal-hal random yang tiba-tiba jadi cerita lucu saat pulang. Mulai dari salah jalur, nyasar dikit, teman yang tiba-tiba lapar, seseorang yang ngamuk karena dingin, atau kami yang ketawa tanpa alasan jelas. Aneh, tapi menyenangkan.
Aku sadar bahwa gunung bukan hanya tempat untuk mencari pemandangan indah. Gunung adalah tempat untuk kembali ke diri sendiri. Tempat di mana aku bisa berhenti berpura-pura kuat, berhenti terburu-buru, dan berhenti dibandingkan dengan orang lain.
Gunung mengajariku bahwa langkah kecil pun tetap langkah. Bahwa istirahat bukan berarti menyerah. Bahwa perjalanan itu sendiri jauh lebih berharga daripada puncaknya.
Tentang Aku yang Baru: Dia yang Menemukan Rumah di Ketinggian
Sekarang, setiap kali aku mengingat perjalanan pertamaku, aku merasa bersyukur. Mungkin kalau waktu itu aku menolak ajakan temanku, aku tidak akan pernah tahu betapa berharganya perjalanan ini.
Aku mungkin belum menjadi pendaki yang berpengalaman. Peralatanku masih seadanya, fisikku juga masih pas-pasan. Tapi hatiku selalu terasa penuh setiap kali berada di jalur pendakian.
Aku mulai menyadari bahwa ini bukan hanya hobi. Ini cara baru untuk mengenali diriku. Cara baru untuk menghargai langkah-langkah kecil yang selama ini tidak kulihat.
Naik gunung mengubah aku pelan-pelan, tanpa aku sadari. Aku jadi lebih sabar. Lebih menghargai proses. Lebih mampu menurunkan ego. Dan lebih mudah melihat keindahan dari hal-hal kecil.
Pada akhirnya, aku merasa bahwa aku menemukan versi diriku yang lebih jujur di gunung. Versi yang boleh capek. Boleh salah. Boleh lambat. Versi yang belajar menerima bahwa setiap perjalanan memiliki ritmenya sendiri.
Dan mungkin… di setiap perjalanan menanjak itu, aku semakin dekat dengan diri yang selama ini aku cari.


