
Aku masih ingat betul momen itu. Bukan momen saat berangkat, bukan juga saat mengemas carrier. Tapi momen ketika aku berhenti sejenak di jalur pendakian, menaruh tangan di lutut, menarik napas panjang, lalu menyadari satu hal sederhana: aku benar-benar capek, tapi entah kenapa aku tidak ingin menyerah. Tidak ada yang menyuruhku kuat, tidak ada yang menuntutku sampai. Aku hanya berdiri di sana, menatap tanah, dan tersenyum kecil pada diriku sendiri.
Gunung punya cara yang aneh untuk berbicara pada manusia. Ia tidak berisik, tidak memaksa, tidak menjanjikan apa-apa. Tapi justru di situ aku belajar banyak. Setiap langkah di jalur pendakian seperti membuka lapisan cerita dalam diriku—tentang sabar, tentang ego, tentang menerima bahwa tidak semua hal harus cepat.
Di gunung, aku belajar bahwa ritme setiap orang berbeda. Ada yang melangkah ringan seolah jalur ini hanya taman sore, ada yang terengah tapi tetap maju, ada juga yang sering berhenti, sekadar menenangkan napas dan pikiran. Aku termasuk yang sering berhenti. Bukan karena ingin terlihat lemah, tapi karena aku mulai menghargai tubuhku sendiri. Dulu aku sering memaksa diri untuk terus jalan, takut tertinggal, takut dianggap lambat. Sekarang aku belajar satu hal penting: melambat bukan berarti kalah.
Perjalanan menuju puncak penuh dengan hal-hal kecil yang justru terasa besar. Tawa random karena cerita yang sebenarnya tidak lucu, obrolan tidak jelas tentang masa lalu, mimpi, bahkan hal receh yang entah kenapa terasa hangat. Di gunung, orang-orang lebih jujur. Mungkin karena capek membuat topeng jatuh dengan sendirinya. Tidak ada pencitraan, tidak ada drama. Yang ada hanya manusia dengan ransel, keringat, dan niat untuk sampai.
Aku juga belajar tentang ego. Ego yang biasanya ikut bicara di kehidupan sehari-hari, tiba-tiba menjadi tidak relevan. Di gunung, ego tidak ada gunanya. Mau sok kuat? Tubuhmu yang akan protes. Mau merasa paling hebat? Jalur akan mengingatkan bahwa semua orang sama di hadapan tanjakan. Aku belajar menurunkan ekspektasi—bukan hanya pada orang lain, tapi juga pada diriku sendiri.
Ada saat di mana aku benar-benar ingin duduk lama. Bukan karena lelah fisik saja, tapi karena pikiranku penuh. Anehnya, gunung tidak menambah beban itu. Justru ia seperti tempat aman untuk menaruh semua keruwetan hidup. Di antara suara angin dan langkah kaki, aku merasa pikiranku perlahan-lahan diam. Tidak sepenuhnya hilang, tapi tidak lagi berisik.
Malam di gunung punya suasana yang sulit dijelaskan. Dingin yang menusuk, jaket yang terasa kurang tebal, tapi obrolan justru terasa lebih hangat. Api kecil yang dinyalakan, mie instan yang rasanya berkali-kali lipat lebih enak, dan cerita yang mengalir tanpa rencana. Di situ aku sadar, kebahagiaan kadang tidak butuh hal besar. Cukup kebersamaan, cukup kehadiran, cukup merasa diterima tanpa harus menjadi siapa-siapa.
Tidur di tenda tidak selalu nyaman. Tanah keras, suara angin, tubuh yang pegal. Tapi ada kepuasan aneh saat bangun pagi dengan udara dingin menyentuh wajah. Saat membuka tenda dan melihat langit yang pelan-pelan berubah warna, aku merasa kecil, tapi tidak berarti. Kecil dalam artian yang menenangkan—bahwa hidup tidak harus selalu tentang aku, tentang ambisi, tentang kejar-mengejar.
Pendakian mengajarkanku tentang proses. Bahwa puncak bukan segalanya. Bahkan sering kali, momen paling berkesan justru terjadi sebelum sampai. Saat menolong teman yang kelelahan, saat saling menunggu tanpa diminta, saat memilih berjalan pelan bersama daripada cepat sendirian. Di situ aku belajar arti kebersamaan yang sebenarnya.
Aku juga belajar menerima keterbatasan. Ada jalur yang membuatku ragu, ada langkah yang terasa berat. Dan tidak apa-apa. Aku tidak harus selalu kuat. Tidak harus selalu berani. Yang penting aku terus mencoba, terus melangkah sesuai kemampuanku. Gunung tidak pernah menertawakan orang yang berjalan pelan. Ia hanya menguji kesabaran dan ketulusan niat.
Saat akhirnya sampai di atas, rasanya bukan euforia berlebihan. Lebih seperti lega yang tenang. Aku duduk, menatap sekitar, dan membiarkan angin menyentuh wajahku. Tidak ada teriakan kemenangan, hanya rasa syukur yang sederhana. Aku sampai—dengan caraku sendiri, dengan ritmeku sendiri.
Turun gunung sering kali terasa lebih reflektif. Tubuh lelah, pikiran tenang. Aku banyak diam, tapi bukan kosong. Aku membawa pulang banyak hal: kesadaran bahwa hidup tidak harus selalu cepat, bahwa ego bisa diturunkan, bahwa kebersamaan jauh lebih penting daripada pencapaian pribadi.
Gunung tidak mengubahku secara drastis. Tapi setiap kali pulang, selalu ada bagian kecil dari diriku yang lebih dewasa. Lebih sabar. Lebih mengerti bahwa hidup adalah perjalanan panjang, bukan perlombaan. Dan mungkin, itulah alasan kenapa aku selalu ingin kembali—bukan untuk menaklukkan gunung, tapi untuk bertemu lagi dengan versi diriku yang paling jujur.


