Kalau kamu designer UI/UX, pasti pernah ngalamin: desain sudah merasa rapi, tapi pas sampai ke developer malah banyak pertanyaan, revisi bolak-balik, bahkan ada fitur yang salah paham. Padahal masalahnya sering bukan di desain visual, tapi di struktur file Figma.
File Figma yang enak buat developer itu bukan yang paling cantik, tapi yang jelas, konsisten, dan mudah dipahami. Artikel ini bakal ngebahas gimana bikin file Figma yang disukai developer, supaya proses handoff lebih cepat, minim drama, dan hasil akhirnya sesuai dengan yang kamu bayangkan.
Kenapa File Figma Penting Banget di Proses Development
Di banyak tim, Figma bukan cuma alat desain, tapi jadi dokumen utama sebelum coding dimulai. Kalau file Figma berantakan, developer harus:
-
Menebak-nebak spacing
-
Nanya ulang soal warna
-
Bingung state komponen
-
Salah paham flow
Akibatnya, waktu habis bukan buat bangun produk, tapi buat klarifikasi. Sebaliknya, file Figma yang rapi bikin developer bisa langsung fokus ke implementasi.
Struktur File yang Jelas Lebih Penting dari Desain Cantik
Banyak designer fokus ke tampilan layar, tapi lupa ke struktur file. Padahal, developer lebih sering lihat:
-
Layer panel
-
Naming komponen
-
Hierarki frame
-
Auto layout structure
Kalau layer kamu isinya masih “Rectangle 123”, “Group 5”, atau “Text copy copy”, itu bikin frustasi siapa pun yang buka file-nya selain kamu.
Gunakan Naming yang Masuk Akal, Bukan Sekadar Rapi
Nama layer bukan buat kamu sendiri, tapi buat orang lain juga.
Contoh buruk:
-
Frame 1
-
Group 3
-
Button copy 2
Contoh lebih manusiawi:
-
Header / Navigation
-
Button / Primary / Default
-
Card / Product / Active
Naming seperti ini bikin developer langsung ngerti struktur UI tanpa harus buka satu-satu layer.
Auto Layout Itu Bukan Opsional
Auto layout bukan cuma soal responsive design, tapi juga soal kejelasan struktur. Dengan auto layout:
-
Spacing jadi konsisten
-
Padding lebih mudah dibaca
-
Developer bisa langsung tahu intent layout
File Figma tanpa auto layout sering bikin developer salah interpretasi jarak antar elemen, terutama di mobile UI.
Gunakan Komponen, Jangan Copy-Paste Terus
Komponen bukan cuma buat efisiensi desain, tapi juga buat konsistensi produk.
Kalau button kamu ada 5 versi berbeda di file Figma, developer akan bingung:
“Ini mana yang benar?”
Dengan komponen:
-
State (default, hover, disabled) lebih jelas
-
Variasi ukuran lebih rapi
-
Update bisa massal
Ini bikin proses design system jadi jauh lebih sehat.
Dokumentasi Singkat Lebih Berguna dari Desain Panjang
Developer nggak butuh deskripsi panjang, tapi butuh catatan yang tepat.
Gunakan:
-
Sticky note kecil
-
Comment di frame
-
Page khusus untuk rules
Contoh:
“Button ini disable kalau form kosong”
“Modal muncul setelah user submit”
“Card ini scroll horizontal”
Catatan seperti ini mengurangi asumsi dan mempercepat development.
Gunakan Page Structure yang Masuk Akal
Daripada semua desain ditaruh di satu page panjang, lebih baik pisahkan seperti ini:
-
01 Cover / Overview
-
02 Design System
-
03 Mobile Screens
-
04 Desktop Screens
-
05 Prototype Flow
-
06 Archive / Old Version
Struktur seperti ini bikin file Figma lebih mudah dinavigasi, terutama untuk tim besar.
Jangan Lupa State & Empty Condition
Salah satu kesalahan umum di Figma adalah hanya mendesain kondisi ideal:
-
Data penuh
-
Internet lancar
-
User sukses terus
Padahal developer butuh juga:
-
Empty state
-
Error state
-
Loading state
-
Disabled state
Kalau ini tidak ada, developer harus menebak sendiri — dan hasilnya sering tidak sesuai ekspektasi.
Warna, Font, dan Spacing Harus Bisa Dibaca Cepat
Gunakan:
-
Color styles
-
Text styles
-
Spacing system (misalnya kelipatan 4 atau 8)
Ini bikin developer tidak perlu eyeballing ukuran atau warna, karena semua sudah konsisten dan terdefinisi.
Handoff yang Baik = Lebih Sedikit Revisi
File Figma yang rapi bikin:
-
Implementasi lebih cepat
-
Lebih sedikit bug UI
-
Lebih minim revisi visual
-
Hubungan designer–developer lebih sehat
Handoff yang baik bukan soal bikin presentasi panjang, tapi soal file yang bisa langsung dipakai kerja.
Checklist File Figma yang Developer-Friendly
Sebelum handoff, cek ini:
✅ Naming layer jelas
✅ Auto layout aktif
✅ Komponen konsisten
✅ Design system tersedia
✅ State lengkap
✅ Spacing konsisten
✅ Page structure rapi
✅ Tidak ada desain duplikat random
✅ Catatan penting tersedia
✅ Prototype flow jelas
Kalau sebagian besar sudah centang, file kamu sudah siap dikodekan.
File Figma yang disukai developer bukan yang paling fancy, tapi yang paling jelas, rapi, dan logis. Dengan struktur yang baik, naming yang masuk akal, auto layout yang konsisten, dan state yang lengkap, kamu bisa menghemat banyak waktu — bukan cuma buat developer, tapi juga buat diri kamu sendiri.
Desain bagus itu bukan cuma soal tampilan, tapi juga soal bagaimana desain itu bisa diwujudkan dengan mudah di dunia nyata.
baca artikel sebelumnya:
Desain Instagram yang Bikin Engagement Naik by Fitria Ramadani





