Di era Instagram, TikTok, dan feed serba rapi, kita sering menganggap brand yang bagus itu harus estetik: warna senada, layout bersih, font modern. Tapi anehnya, banyak brand yang secara visual biasa saja, bahkan kadang terlihat “nggak niat”, justru lebih diingat orang.
Ini bukan kebetulan. Ada alasan psikologis dan strategis di balik kenapa brand yang tidak estetik secara visual bisa terasa lebih kuat di kepala audiens.
Estetik Itu Menarik, Tapi Tidak Selalu Membekas
Desain estetik memang enak dilihat. Tapi sering kali, setelah beberapa detik, kita lupa.
Kenapa? Karena visual yang terlalu rapi dan “aman” cenderung mirip satu sama lain. Akhirnya, otak kita menganggapnya sebagai bagian dari keramaian, bukan sesuatu yang perlu disimpan.
Brand yang tidak estetik justru sering:
-
tampil beda dari lingkungan sekitarnya
-
terasa lebih jujur dan apa adanya
-
punya ciri visual yang tidak biasa
Dan hal-hal aneh seperti ini justru lebih mudah diingat.
Otak Manusia Lebih Ingat Hal yang “Tidak Normal”
Dalam psikologi, ada yang disebut von Restorff effect — manusia lebih mudah mengingat sesuatu yang menonjol atau berbeda dari sekitarnya.
Di dunia branding, ini berarti brand yang tampil “nggak umum” punya peluang lebih besar untuk menempel di ingatan.
Kadang bukan karena desainnya bagus, tapi karena desainnya tidak seperti yang lain.
Terlalu Estetik Bisa Terasa Dingin
Brand yang terlalu rapi dan sempurna kadang terasa:
-
jauh
-
kaku
-
tidak manusiawi
Sebaliknya, brand yang sedikit “berantakan” atau tidak terlalu polished justru terasa lebih dekat, lebih real, dan lebih mudah dipercaya. Orang cenderung connect dengan sesuatu yang terasa manusiawi, bukan yang terlihat terlalu sempurna.
Brand yang Diingat Biasanya Punya Kepribadian, Bukan Sekadar Gaya
Brand yang kuat bukan yang paling cantik, tapi yang paling jelas kepribadiannya.
Kadang kepribadian itu muncul lewat:
-
tone komunikasi yang khas
-
visual yang nyeleneh
-
konsistensi gaya yang tidak umum
Brand seperti ini mungkin tidak masuk kategori “estetik Instagram”, tapi mereka punya karakter. Dan karakter jauh lebih mudah diingat daripada sekadar tampilan rapi.
Estetik Tidak Sama dengan Strategis
Desain estetik sering dibuat untuk menyenangkan mata, bukan untuk menyampaikan pesan.
Padahal branding seharusnya membantu orang:
-
mengenali brand
-
mengingat brand
-
memahami posisi brand
Kalau desain cantik tapi tidak punya pesan yang jelas, maka ia hanya jadi hiasan visual, bukan alat komunikasi.
Jadi, Apakah Estetika Tidak Penting?
Bukan berarti estetika tidak penting. Estetika tetap penting — tapi bukan sebagai tujuan utama.
Estetika seharusnya mendukung identitas, bukan menggantikannya.
Brand yang kuat biasanya bukan yang paling estetik, tapi yang:
-
paling konsisten
-
paling jujur
-
paling relevan dengan audiensnya
Brand yang tidak estetik justru bisa lebih diingat karena mereka berani tampil beda, terasa manusiawi, dan punya karakter yang jelas. Di dunia visual yang seragam, keanehan kecil sering jadi kekuatan besar.
Jadi, daripada mengejar desain yang sekadar cantik, mungkin lebih penting mengejar desain yang punya makna dan kepribadian.





