Ada satu kesalahan besar yang sering dilakukan skater di Instagram.
Mereka memperlakukan feed seperti tempat buang hasil latihan.
Trik jadi.
Upload.
Besok latihan lagi.
Upload lagi.
Tanpa sadar, feed mereka penuh video—
tapi kosong cerita.
Padahal di era sekarang, Instagram bukan cuma tempat pamer trik.
Ia adalah etalase personal branding.
Dan etalase yang berantakan membuat orang lewat begitu saja.
Instagram Skater Bukan Tentang Viral, Tapi Tentang Arah
Tidak semua skater harus viral.
Tidak semua skater harus lucu.
Tidak semua skater harus teknis ekstrem.
Tapi semua skater butuh arah.
Brand, komunitas, bahkan filmmaker tidak bertanya:
“Berapa view video terakhir lo?”
Mereka melihat:
“Gue ngerti nggak siapa lo dari feed ini?”
Kalau jawabannya tidak,
berarti feed Anda belum bekerja.
Feed Instagram = Portofolio Visual (Sadar atau Tidak)
Dulu, skater bawa:
-
DVD part
-
Harddisk
-
Link YouTube
Sekarang?
Satu scroll sudah cukup.
Feed Instagram yang rapi memberi sinyal:
-
Lo serius
-
Lo punya selera
-
Lo ngerti citra diri
Feed yang acak memberi sinyal sebaliknya—
meskipun triknya bagus.
Ini bukan soal sok estetik.
Ini soal membantu orang memahami Anda dengan cepat.
Kesalahan Umum Skater Saat Mengelola Feed
Mari jujur sebentar.
Banyak skater:
-
Upload semua clip tanpa seleksi
-
Campur video skate, meme, story random
-
Tidak peduli urutan
-
Tidak peduli warna, mood, atau tone
Akibatnya?
Feed terasa berisik, bukan kuat.
Portofolio yang baik tidak menampilkan semua,
tapi yang paling relevan.
Cara Mengubah Video Latihan Jadi Portofolio Estetik
1. Pilih Gaya, Bukan Jumlah
Lebih baik:
-
1 video solid per minggu
daripada -
7 video asal upload
Portofolio bukan soal rajin.
Tapi soal konsistensi kualitas.
2. Tentukan “Mood” Feed Anda
Tanya diri sendiri:
-
Feed lo mau terasa raw?
-
Clean?
-
Street gritty?
-
Chill dan minimal?
Tidak ada yang benar atau salah.
Yang salah adalah tidak memilih.
Mood yang konsisten membuat orang:
“Oh ini vibe dia.”
3. Video Latihan Tetap Bisa Keren Kalau Jujur
Tidak semua clip harus perfect land.
Justru:
-
Attempt
-
Fall
-
Ulangi
-
Akhirnya dapet
itu cerita yang manusiawi.
Tapi pilih momen.
Jangan semua di-upload.
4. Susun Feed Seperti Cerita, Bukan Timeline
Instagram menampilkan grid.
Manfaatkan itu.
Coba:
-
Video berat → jeda foto
-
Spot street → detail board
-
Clip cepat → clip slow
Feed yang “bernapas” terasa jauh lebih profesional.
Estetika Bukan Musuh Autentisitas
Banyak skater takut:
“Nanti dibilang sok aesthetic.”
Padahal estetika bukan berarti palsu.
Estetika adalah cara menyusun kejujuran agar enak dilihat.
Trik lo tetap trik lo.
Jatuh lo tetap jatuh lo.
Yang berubah hanya:
cara menyajikannya.
Dan itu skill yang bisa dilatih.
Instagram sebagai Gerbang, Bukan Tujuan Akhir
Ingat satu hal penting:
Instagram bukan tujuan akhir personal branding.
Ia hanya gerbang.
Gerbang ke:
-
Website portofolio
-
Kolaborasi
-
Komunitas
-
Kesempatan kerja kreatif
Feed yang rapi membuat orang:
“Gue mau tahu lebih banyak soal dia.”
Dan rasa penasaran itu berharga.
Penutup: Jangan Asal Upload, Mulai Berkata Sesuatu
Setiap kali Anda klik “post”,
sebenarnya Anda sedang berkata sesuatu.
Pertanyaannya:
“Apa yang ingin gue katakan tentang diri gue?”
Jika feed Anda hari ini tidak menjawab itu,
bukan berarti Anda tidak berbakat.
Mungkin Anda hanya belum menyusunnya dengan sadar.
Dan personal branding selalu dimulai dari kesadaran kecil.


