Home ARTIKEL PERSONAL BRANDING Layar Kosong dan Kode? Bukan Caraku: Petualangan Seorang Anak RPL Memahami Software...

Layar Kosong dan Kode? Bukan Caraku: Petualangan Seorang Anak RPL Memahami Software by Nujula Rahma

0
6

Mungkin, di antara kalian, ada yang masih terdengar sedikit asing, atau bahkan terkesan terlalu “nerdy” saat mendengar kata “software”. Kata ini seringkali melayang di percakapan, tersembunyi di iklan, dan menjadi jargon di dunia kerja. Tapi apa sebenarnya bayangan kita saat mendengarnya? Seorang programmer dengan kacamata tebal yang menatap layar penuh kode hijau? Atau sebuah jendela popup yang meminta update?

Coba kita ganti sudut pandangnya. Bayangkan sebuah komputer canggih, laptop paling mahal sekalipun, tanpa software. Ia hanyalah bongkahan logam dan plastik yang elegan tapi bisu. Ia punya mata (webcam), telinga (mikrofon), dan otak (prosesor), tapi tidak tahu harus berbuat apa. Software-lah yang menjadi nyawanya. Ia adalah kumpulan instruksi, resep rahasia, dan bahasa isyarat yang menggerakkan perangkat keras itu. Software adalah chef di dapur yang punya semua alat masak canggih (hardware), tapi tanpa resep (software), ia tidak bisa menghidangkan satu makanan pun. Mulai dari sistem operasi yang membuat layar menyala, browser yang membawa kamu ke artikel ini, hingga game yang membuat kamu lupa waktu, semuanya adalah software. Ia adalah konduktor dalam orkestra digital, memastikan setiap instrumen bermain harmonis untuk menciptakan pengalaman yang kita gunakan setiap hari.

Perjalananku dengan dunia ini tidak dimulai dari sebuah kuliah di universitas ternama atau sebuah kursus mahal. Ia dimulai dari sebuah keputusan remaja yang sedikit gelisah di bangku SMK. Aku memilih jurusan RPL, Rekayasa Perangkat Lunak. Sejujurnya, saat itu pemahamanku sangat dangkal. Aku tahu ini jurusan “komputeran”, yang katanya bakal banyak kerja. Tapi, sejak pertama kali masuk kelas dan disodori soal logika, algoritma, dan baris-baris kode yang awalnya terlihat seperti sandi alien yang tidak akan pernah bisa kupecahkan, sesuatu klik di dalam kepalaku. Aku merasa… nyaman. Di tengah kebingungan itu, ada sensasi tantangan yang menyenangkan. Aku merasa ini adalah tempatku, tempat di mana aku bisa menciptakan sesuatu dari ketidakberadaan, tempat di mana logika adalah bahasa utama dan kreativitas adalah batasannya.

Aku Belajar Bukan dari Layar Kosong, tapi dari “Rasa”

Inilah yang mungkin sedikit (atau sangat) berbeda dari cara kebanyakan orang belajar, terutama di bidang teknologi. Narasi yang sering kita dengar adalah: untuk jago programming atau desain, kamu harus disiplin, mulai dari nol, dari layar kosong yang menantangmu untuk mengetik kode pertamamu, atau membuat kanvas putih dari awal.

Aku? Aku tidak pernah benar-benar memulainya dari sana. Bagiku, memulai dari layar kosong itu seperti diminta untuk menulis novel tanpa ada ide cerita sama sekali. Itu menakutkan, dan seringkali berakhir dengan prokrastinasi.

Aku memulainya dari rasa ingin tahu yang menggebu-gebu dan seringkali tidak logis. “Gimana sih caranya bikin website keren kayak gini yang efeknya smooth banget?” “Aplikasi edit video ini bisa ngapain aja sih? Coba aku utak-atik tombol ini yang ikonnya aneh.” “Apakah mungkin membuat bot yang otomatis menjawab pesan di WhatsApp?” Rasa ingin tahu ini adalah percikan api. Ia tidak peduli apakah aku punya bekal pengetahuan yang cukup atau tidak. Ia hanya ingin tahu jawabannya, sekarang juga.

Dari rasa ingin tahu itu, lahirlah rasa bingung yang sangat nyata. Aku buka software, aku lihat puluhan menu bertumpuk-tumpuk, aku coba-coba, dan… error. Hasilnya acak-acakan, warnanya norak, layoutnya hancur lebur, atau kode yang kutulis mengembalikan pesan merah menyala yang artinya “salah”. Ini adalah tahap di mana banyak orang menyerah. Rasa bingung ini terasa seperti berada di labirin tanpa peta.

Tapi di titik inilah rasa berani muncul. Berani bukan berarti tidak takut. Berani adalah melangkah meskipun takut. Aku berani untuk mencoba lagi, berani untuk klik tombol yang aku tidak tahu fungsinya (sambil berdoa tidak ada yang crash), berani untuk bertanya di forum yang isinya orang-orang jauh lebih pintar dariku, dan yang terpenting, berani untuk… gagal.

Bagiku, kegagalan dalam sebuah proyek kecil adalah guru terbaik yang pernah ada. Setiap error message bukanlah bentakan, melainkan teka-teki yang harus dipecahkan. Aku akan copy-paste pesan error itu ke Google, membaca puluhan forum di Stack Overflow, dan mencoba memahami solusi yang diberikan orang-orang dari belahan dunia lain. Setiap hasil desain yang tidak sesuai keinginan bukanlah waktu yang terbuang, melainkan petunjuk visual bahwa ada prinsip desain yang kulewatkan. Dititik itulah, secara perlahan tapi pasti, aku mulai mengerti. Aku belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan di sekolah, tetapi juga dari “guruku” di luar sekolah: media sosial dan seorang “teman” virtual yang selalu ada.

Guruku 24/7: Media Sosial dan AI yang Bukan untuk Menyontek

Banyak orang, terutama dari generasi sebelumnya, yang berpikir bahwa belajar dengan bantuan AI (Kecerdasan Buatan) itu sama dengan nyontek. “Kan tinggal minta jawaban, terus copy-paste? Mana bisa dapat ilmunya?”

Tapi menurutku, itu pandangan yang sangat menyederhanakan dan keliru. Mari kita bedakan. Menyontek adalah ketika kita mengambil hasil kerja orang lain (atau AI) dan mengklaimnya sebagai milik kita tanpa usaha memahaminya, tanpa melalui proses. Ini adalah jalan pintas yang hanya memberikan jawaban, bukan keahlian.

Sedangkan belajar dengan AI itu seperti punya mentor pribadi, seorang asisten senior yang super sabar, dan standby 24/7. Bayangkan ini: aku sedang mengerjakan proyek dan menemukan sebuah baris kode error yang membingungkan. Aku sudah mencoba selama satu jam dan tidak menemukan solusinya. Daripada frustrasi, aku bisa “berbicara” dengan AI.

“Hey, saya punya kode Python ini. Dia mengeluarkan error ‘IndexError: list index out of range’. Saya sudah cek, sepertinya list-nya tidak kosong. Bisa tolong jelaskan apa arti error ini dalam bahasa yang mudah dimengerti dan beri saya 3 kemungkinan penyebabnya?”

Dan dalam hitungan detik, AI akan menjelaskan bahwa error itu terjadi ketika aku mencoba mengakses elemen dalam list dengan nomor urut yang tidak ada. Ia akan memberikan contoh: “Jika list-mu hanya punya 3 elemen (indeks 0, 1, 2), tapi kamu mencoba mengakses indeks ke-4, maka error ini akan muncul.” Lalu ia akan memberikan kemungkinan solusi: “Mungkin loop-mu melebihi panjang list, atau ada logika yang salah dalam perhitungan indeks.”

Apakah ini menyontek? Tidak. Aku tidak meminta AI untuk memperbaiki kodenya. Aku memintanya untuk mengajarku konsep di balik masalahku, sehingga aku yang bisa memperbaikinya. AI adalah alat, sama seperti palu bagi tukang kayu. Palu tidak akan tiba-tiba membuat kursi dengan sendirinya, tapi tukang kayu yang menggunakan palu dengan baik yang bisa menciptakan mahakarya. Begitulah cara aku memanfaatkan AI, sebagai asisten yang membuat proses belajarku jauh lebih efisien, menghilangkan waktu yang terbuang sia-sia karena frustrasi pada masalah-masalah dasar.

Sumber belajarku yang lain adalah media sosial. Bukan untuk stalking, tapi untuk berburu ilmu. Di Instagram dan TikTok, aku mengikuti akun-akun desainer dan programmer yang membagikan tips singkat dalam 60 detik. “Cara membuat teks melengkung di Photoshop,” atau “Trik debugging kode JavaScript yang harus kamu tahu.” Di YouTube, aku tidak menonton tutorial “Pemula Hingga Ahli” yang 10 jam. Aku mencari video “Membuat landing page dari awal (project-based)” di mana aku bisa mengikuti sang pembuat membuat sesuatu yang nyata. Di Twitter atau X, aku mengikuti para developer profesional untuk melihat pemikiran mereka, debat teknologi terkini, dan sumber daya yang mereka bagikan. Ini adalah cara belajar yang pasif tapi sangat kaya.

“Ah, Masih Muda dan Belum Lulus Kuliah, Kok Mau Ngajarin?”

Mungkin tidak banyak yang akan mengucapkannya langsung, tapi pasti ada suara di kepala kita (atau dari keraguan orang lain) yang berbisik, “Ah, masa mau diajarin anak yang baru saja mengenal software? Kan belum lulus kuliah, belum punya pengalaman kerja bertahun-tahun.”

Pikiran seperti ini wajar, dan jujur, seringkali muncul di benakku. Ini yang disebut dengan imposter syndrome, perasaan penipuan di mana kita merasa tidak layak berada di posisi kita. Tapi, coba kita lihat dari sisi lain. Apakah lebih enak belajar matematika dari seorang profesor PhD yang sudah lupa bagaimana rasanya bingung dengan soal pecahan, atau dari seorang kakak kelas yang baru saja menguasainya dan masih ingat betul trik-trik jitu untuk melawannya?

Aku berada di posisi kakak kelas itu. Aku masih merasakan frustrasi saat kode error muncul di tengah malam. Aku masih bergairah saat akhirnya sebuah fitur kecil yang kubuat bisa berjalan dengan baik. Aku masih mencatat setiap trik baru yang kudapat di jurnal kecilku, baik itu fisik maupun digital. Aku tidak mengajarkan dari buku teori yang kaku dan penuh definisi, tapi dari pengalaman yang masih hangat, dari luka-luka kecil dan kemenangan-kemenangan kecil yang masih terasa emosional.

Kelebihan seorang pelajar adalah dia tahu persis di mana “lubang-lubang” pemahaman yang biasanya membuat orang terjatuh. Seorang ahli mungkin akan melompati langkah-langkah dasar karena baginya itu sudah terlalu mudah, sementara aku akan berhenti dan berkata, “Hati-hati di sini, banyak yang salah paham konsep ini, dulu aku juga begitu.”

Oleh karena itu, dengan mengikuti Jurnal Nujula Rahma, kalian akan tahu sedikit demi sedikit apa itu “software” lewat cerita dan proyek nyata. Meskipun aku seorang yang juga baru saja mengenal dunia ini secara mendalam, itu bukan hambatan. Justru, itu menjadi keuntungan terbesar kita. “Jurnal Nujula Rahma” bukanlah kelas pakar yang berdiri di atas podium dan memberi kuliah. Ini adalah sebuah meja kerja yang kubuka untuk kita semua, tempat kita bisa bingung bersama, mencoba bersama, dan merayakan keberhasilan kecil kita bersama.

Di jurnal ini, aku akan berbagi proyek-proyek gagalku dan apa yang kupelajari darinya. Aku akan menunjukkan caranya aku menggunakan AI untuk mengatasi dead end. Aku akan memecah konsep-konsep sulit menjadi bahasa yang aku pahami sendiri, mudah-mudahan kalian juga paham. Karena percayalah, cara terbaik untuk memastikan kau benar-benar memahami sesuatu adalah dengan mencoba menjelaskannya kepada orang lain.

Jadi, yuk, kita buang jauh-jauh rasa takut untuk memulai. Mari kita belajar, gagal, dan tumbuh bersama, dengan caraku… yang mungkin juga akan menjadi caramu. Tutup buku manualnya yang tebal dan membosankan. Buka software itu. Pecahkan satu masalah kecil yang sangat kamu inginkan. Dan mari kita buat kekacauan yang kreatif bersama. Petualangan ini baru dimulai, dan aku senang bisa menjadi teman di perjalananmu.

Previous articleUI/UX Designer Kerjanya Apa? Ini Peran dan Tugasnya by Fitria Ramadani
Next articleUI/UX vs Desain Grafis: Mana yang Lebih Cocok untuk Pemula?
Nujula Rahma
Nujula Rahma adalah seorang penulis dan pecinta dunia teknologi yang memiliki antusiasme tinggi terhadap perkembangan software dan inovasi digital. Dikenal sebagai pribadi yang ceria, dan selalu siap terhadap pembelajaran baru, Nujula terus mengembangkan kemampuan dirinya di bidang teknologi, terutama pada sistem dan aplikasi berbasis software yang dapat membantu mempermudah kehidupan masyarakat modern. Kecintaannya pada dunia teknologi mendorongnya untuk terus mengikuti tren dan perkembangan terbaru, baik melalui riset mandiri maupun eksplorasi langsung terhadap berbagai platform dan perangkat digital. Baginya, teknologi adalah ruang kreatif yang tidak hanya mempermudah pekerjaan manusia, tetapi juga membuka peluang inovasi tanpa batas. Selain aktif di dunia teknologi, Nujula Rahma juga dikenal sebagai seorang penulis yang produktif dalam menciptakan karya cerpen. Melalui tulisan-tulisannya, ia mampu menyampaikan pesan, nilai, dan emosi yang menyentuh pembacanya. Gaya bahasa yang mengalir dan imajinatif menjadi ciri khasnya dalam berkarya. Bagi Nujula, menulis adalah media untuk mengekspresikan pikiran, pengalaman, dan empati. Sedangkan teknologi adalah wadah untuk menciptakan masa depan yang lebih efektif dan kreatif. Kombinasi keduanya menjadikan dirinya sosok yang inspiratif dan terus tumbuh dalam dunia digital dan literasi. Dengan semangat belajar yang tidak pernah padam, Nujula Rahma terus mengembangkan diri, berkontribusi dalam dunia penulisan, serta mengejar impiannya untuk menciptakan karya-karya bermanfaat, baik dalam bentuk tulisan maupun teknologi.