Ketika kita mendengar kata “kreatif” dalam konteks teknologi, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada sosok-sosok legendaris: Steve Jobs yang merancang iPhone, atau tim engineer di Google yang menciptakan algoritma pencarian revolusioner. Kita menganggap kreativitas sebagai kilatan ilahi yang hanya datang kepada segelintir orang jenius—sesuatu yang besar, epik, dan mengubah dunia.
Tapi, apa jadinya jika saya bilang bahwa kreativitas yang paling berkelanjutan dan paling berharga dalam karir seorang software engineer justru tidak lahir dari proyek-proyek megah? Ia dibangun secara perlahan, dari tindakan-tindakan kecil yang sering kita lakukan di sela-sela pekerjaan, di luar deadline, dan bahkan di luar layar laptop.
Kreativitas, bagi saya, bukanlah tentang menciptakan sesuatu dari tidak ada. Ia adalah kemampuan untuk menghubungkan titik-titik yang sudah ada dengan cara yang baru. Dan “titik-titik” itu kita kumpulkan melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang mungkin terlihat tidak berhubungan sama sekali dengan pekerjaan kita.
1. Membaca Kode Seperti Membaca Puisi, Bukan Hanya Manual
Sebagian besar dari kita membaca kode dengan satu tujuan: memahami cara kerjanya untuk memperbaiki bug atau menambah fitur. Ini seperti membaca buku pelajaran—fokus pada informasi, bukan keindahannya.
Tapi, coba sesekali luangkan waktu untuk membaca kode seperti Anda membaca puisi atau novel. Pilih sebuah open-source library yang Anda kagumi, atau bahkan bagian basis kode tim Anda yang ditulis dengan sangat apik. Baca tanpa tujuan untuk mengubah apa pun. Fokus pada pertanyaan-pertanyaan ini:
- “Wah, cara dia menyelesaikan masalah ini sangat elegan. Mengapa saya tidak kepikir seperti itu?”
- “Struktur datanya dipilih dengan alasan apa ya? Ini sangat efisien.”
- “Nama fungsi dan variabelnya sangat puitis. Ia menceritakan sebuah kisah.”
Saya ingat sekali saat membaca sumber kode dari sebuah library kecil untuk manipulasi tanggal. Saya menemukan sebuah fungsi yang menangani timezone dengan cara yang sangat sederhana namun brilian, menggunakan trik matematika yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Saya tidak memperbaiki apa pun, tetapi saya “mencuri” ide itu. Ide itu kemudian menginspirasi saya untuk menyelesaikan masalah yang berbeda di proyek saya sendiri.
Kegiatan “membaca untuk kesenangan” ini memperkaya perpustakaan pola dan solusi di dalam otak Anda. Semakin banyak pola yang Anda kenal, semakin mudah bagi Anda untuk mengombinasikannya menjadi solusi kreatif di masa depan.
2. Bermain dengan Alat yang “Salah”
Kita seringkali terjebak dalam zona nyaman alat dan bahasa pemrograman yang kita gunakan sehari-hari. Jika kita adalah backend developer, kita berpikir dalam SQL dan API. Jika kita frontend, kita berpikir dalam komponen dan state.
Salah satu cara tercepat untuk memicu kreativitas adalah dengan sengaja menggunakan alat yang “salah” untuk sebuah masalah kecil.
Contoh kecil: Saya pernah memiliki tugas untuk menganalisis file log yang sangat besar. Insting pertama saya adalah menulis skrip Python. Tapi, sebagai eksperimen, saya memaksa diri untuk mencoba menyelesaikannya hanya dengan menggunakan command line di Linux (seperti grep, awk, sed, dan sort).
Prosesnya lebih lambat dan lebih sulit, tetapi sesuatu yang menakjubkan terjadi. Saya dipaksa untuk berpikir tentang alur data secara linear dan efisien. Saya belajar trik-trik baru yang akhirnya membuat saya jauh lebih mahir dalam menggunakan shell. Lebih dari itu, sudut pandang yang baru ini memberi saya ide untuk mengoptimasi skrip Python asli saya, yang ternyata bisa dibuat jauh lebih sederhana.
“Bermain” dengan alat yang tidak familiar ini seperti seorang pelukis yang mencoba menggambar dengan tangan kiri. Hasilnya mungkin tidak bagus, tetapi prosesnya melatih otak untuk melihat dunia dengan cara yang sama sekali baru.
3. Mencuri Ide dari Dunia Lain (dan Menerjemahkannya ke Kode)
Kreativitas adalah seni mencuri. Tapi bukan menjiplak. Ini adalah seni mengamati sesuatu yang bekerja dengan baik di satu konteks, lalu menemukan prinsip di baliknya dan menerapkannya di konteks yang sama sekali berbeda.
Sebagai software engineer, dunia kita seringkali terbatas pada layar dan logika. Tapi, ide-ya terbaik seringkali datang dari luar sana.
- Pernahkah Anda terpikir bagaimana sistem antrian di restoran cepat saji bekerja? Ada antrian untuk pesanan, antrian untuk pengambilan, prioritas untuk anggota. Bisakah prinsip ini diterapkan pada sistem background job Anda?
- Bagaimana seorang barista mengingat puluhan pesanan kompleks? Mereka menggunakan sistem kode dan urutan kerja yang efisien. Bisakah ini menginspirasi cara Anda menyusun task list atau alur kerja debugging?
- Perhatikan cara aplikasi musik atau game membuat pengalaman pengguna yang mulus dan adiktif. Apa pelajaran kecil yang bisa Anda ambil untuk onboarding pengguna di aplikasi Anda?
Saya pernah terinspirasi oleh cara kerja playlist di Spotify. Saya membawa ide “algoritma rekomendasi berbasis riwayat dan preferensi” yang disederhanakan ke dalam fitur “artikel terkait” di sebuah blog yang saya kembangkan. Ini bukan ide baru, tetapi dengan melihatnya dari sudut pandang musik, saya menemukan pendekatan yang lebih segar.
Kesimpulan: Kreativitas Adalah Praktik, Bukan Bakat
Personal branding Anda sebagai seorang software engineer yang kreatif tidak akan dibangun dengan satu proyek yang tiba-tiba viral. Ia dibangun dari rasa ingin tahu yang Anda pupuk setiap hari melalui tindakan-tindakan kecil.
- Luangkan waktu untuk membaca kode yang indah.
- Berani bereksperimen dengan alat yang asing.
- Selalu mengamati dunia di sekitar Anda dan bertanya, “Bisakah prinsip ini bekerja di kode?”
Kreativitas bukanlahlah gen yang Anda warisi. Ia adalah otot yang Anda latih. Setiap kali Anda melakukan “hal kecil” ini, Anda sedang menambah beban latihan itu. Mungkin hari ini tidak terasa ada hasilnya, tapi percayalah, saat Anda dihadapkan pada masalah besar yang membutuhkan solusi segar, Anda akan menyadari bahwa “otot kreativitas” Anda sudah siap untuk bekerja.
Baca artikel sebelumnya


