Banyak orang mengira desain UX yang simpel pasti lebih mudah digunakan. Padahal, di praktiknya nggak selalu begitu. Ada banyak produk digital—baik website maupun aplikasi—yang tampilannya kelihatan bersih, minimalis, dan modern, tapi justru bikin pengguna bingung saat dipakai.
Masalahnya bukan di “simpel”-nya, tapi di bagaimana kesederhanaan itu diterapkan.
Simpel Bukan Berarti Menghilangkan Fungsi Penting
Salah satu kesalahan UX yang sering terjadi adalah terlalu fokus menghilangkan elemen visual, sampai lupa bahwa pengguna tetap butuh petunjuk. Contohnya, tombol tanpa teks yang hanya berupa ikon. Bagi desainer, ikon itu terasa jelas. Tapi buat pengguna baru, belum tentu.
Desain yang terlalu minim sering membuat user harus menebak:
-
tombol ini buat apa?
-
langkah selanjutnya di mana?
-
kenapa nggak ada respon?
Kalau pengguna harus berpikir terlalu lama, itu tandanya UX-nya bermasalah.
Navigasi Terlihat Rapi, Tapi Sulit Dipahami
Navigasi yang simpel memang enak dilihat, tapi kalau strukturnya nggak jelas, justru menyulitkan. Banyak website menyembunyikan menu penting demi tampilan yang bersih. Akibatnya, pengguna butuh lebih banyak klik hanya untuk menemukan satu informasi.
UX yang baik seharusnya membantu pengguna mencapai tujuan dengan cepat, bukan memaksa mereka mencari-cari.
Terlalu Sedikit Feedback ke Pengguna
UX yang terlihat simpel sering lupa memberikan feedback. Misalnya saat tombol ditekan tapi tidak ada perubahan visual, loading, atau notifikasi. Pengguna jadi ragu: apakah sistemnya bekerja atau error?
Feedback kecil seperti animasi ringan, perubahan warna tombol, atau teks singkat sangat penting. Tanpa itu, desain memang terlihat bersih, tapi pengalaman penggunanya terasa kosong.
Fokus Estetika, Lupa Kebutuhan Pengguna
Tidak sedikit desain UX yang dibuat berdasarkan selera visual, bukan perilaku pengguna. Warna lembut, font kecil, dan spacing lebar memang estetik, tapi kalau sulit dibaca atau tidak ramah di layar kecil, itu jadi masalah.
UX bukan soal terlihat cantik, tapi soal nyaman digunakan oleh banyak orang dengan kondisi berbeda.
UX yang Baik Itu Terasa, Bukan Sekadar Terlihat
UX yang benar-benar baik sering kali tidak disadari pengguna. Mereka bisa menyelesaikan tujuan tanpa berpikir panjang, tanpa merasa bingung, dan tanpa merasa lelah. Sebaliknya, UX yang terlalu simpel tapi salah arah akan langsung terasa mengganggu.
Kesederhanaan dalam UX seharusnya membantu, bukan membingungkan.
Kesimpulan
Desain UX yang simpel memang penting, tapi harus tetap memperhatikan fungsi, alur, dan kebutuhan pengguna. Mengurangi elemen visual boleh saja, selama tidak menghilangkan kejelasan. UX yang baik bukan tentang seberapa sedikit elemen yang digunakan, tapi seberapa mudah pengguna berinteraksi dengan produk tersebut.
Kalau desain terlihat simpel tapi membuat pengguna berhenti, ragu, atau bingung, itu tanda UX-nya perlu diperbaiki.





