Setiap buku biasanya punya cerita di balik proses pembuatannya. Begitu juga dengan buku yang sedang aku buat, Ketika Playlist Menjadi Rumah.
Buku ini bukan cerita tentang kehidupan aku. Ceritanya adalah fiksi yang aku buat dengan karakter, konflik, dan jalan cerita sendiri. Tapi, ada beberapa hal dari kehidupan sehari-hari yang sedikit menginspirasi ide ceritanya.
Aku memang suka K-pop dan terkadang suka mendengarkan lagu, terutama ketika suasana sedang sepi. Bukan berarti setiap saat aku mendengarkan musik, tetapi ada kalanya lagu terasa cocok untuk menemani waktu sendiri. Dari hal sederhana itu, muncul sebuah ide: bagaimana kalau musik bukan hanya menjadi sesuatu yang didengarkan, tetapi juga bisa terasa seperti tempat untuk pulang?
Dari situlah konsep Ketika Playlist Menjadi Rumah mulai terbentuk.

Desain sampul buku Ketika Playlist Menjadi Rumah yang sedang aku kerjakan.
Awalnya Hanya Sebuah Ide
Awalnya aku hanya memiliki gambaran sederhana tentang seseorang yang menemukan kenyamanan melalui musik dan idol yang ia sukai. Dari gambaran kecil tersebut, aku mulai mencoba mengembangkan ceritanya.
Aku kemudian membuat karakter, menentukan konflik, memikirkan hubungan antar tokoh, sampai mencari tahu bagaimana cerita ini bisa berkembang dari awal sampai akhir.

Salah satu proses dalam mengembangkan ide menjadi sebuah cerita.
Ternyata, membuat sebuah buku tidak sesederhana menulis cerita lalu selesai. Ada banyak bagian yang harus dipikirkan supaya setiap kejadian di dalam cerita tetap saling berhubungan.
Mencoba Mengubah Ide Menjadi Cerita
Salah satu bagian yang cukup menarik adalah ketika ide yang awalnya hanya ada di kepala mulai dituangkan menjadi tulisan.
Aku mencoba membuat cerita yang tidak hanya membahas tentang K-pop atau musik, tetapi juga tentang perasaan, kenyamanan, kehilangan, dan bagaimana seseorang bisa menemukan tempat yang membuatnya merasa tidak sendirian.
Musik dalam cerita ini akhirnya bukan sekadar pelengkap. Playlist menjadi bagian dari perjalanan karakter dan memiliki makna tersendiri bagi mereka.
Walaupun ceritanya fiksi, aku ingin pembaca tetap bisa menemukan sesuatu yang terasa dekat dengan kehidupan mereka sendiri.
Ada Tantangan di Prosesnya
Selama membuat buku ini, tentu ada beberapa bagian yang tidak langsung berjalan lancar. Mulai dari menentukan alur, mengembangkan setiap bab, sampai memastikan ceritanya tetap menarik untuk diikuti.
Kadang ada ide yang terasa bagus di awal, tetapi setelah ditulis ternyata masih perlu diubah. Ada juga bagian yang harus dipikirkan ulang supaya ceritanya lebih masuk akal dan tidak terasa terburu-buru.
Dari situ aku belajar bahwa membuat sebuah karya membutuhkan proses. Tidak harus langsung sempurna, yang penting terus mencoba memperbaiki hasilnya.
Buku Ini Jadi Salah Satu Bentuk Proses Kreatifku
Ketika Playlist Menjadi Rumah menjadi salah satu pengalaman kreatif yang membuat aku mencoba sesuatu yang berbeda.
Biasanya aku lebih banyak mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan desain dan konten. Kali ini aku mencoba mengembangkan sebuah cerita yang cukup panjang dan menuangkannya menjadi sebuah buku.
Dari proses ini, aku jadi tahu bahwa sebuah karya bisa berawal dari hal yang sederhana. Bisa dari lagu yang didengarkan ketika sedang sepi, sesuatu yang disukai, atau bahkan sebuah pertanyaan kecil yang tiba-tiba muncul di pikiran.
Buku ini memang bukan kisah hidup aku. Tapi proses membuatnya menjadi bagian dari perjalanan kreatif aku.
Dan mungkin, dari satu ide kecil ini, akan ada karya-karya lain yang bisa aku buat di kemudian hari.
Kalau kamu ingin membaca artikel sebelumnya tentang review novel yang pernah aku buat, kamu bisa klik link di bawah ini 👇🏻 : https://pkl.web.id/review-novel-blind-date-pink-oleh-naailah/


