- Apa yang Membuat Nagi Memilih Naokii?
Dalam kisah A Husband’s Oath to His Wife, hubungan Naokii Veyi dan Nagi Veyi bukanlah kisah cinta yang dimulai karena sebuah perjodohan, ambisi politik, ataupun keinginan untuk mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi. Mereka adalah dua orang yang sudah saling mengenal sejak kecil, tumbuh bersama, saling memperhatikan, dan perlahan menemukan bahwa hubungan mereka telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar persahabatan. Namun, jika Nagi memang memiliki begitu banyak alasan untuk mempertimbangkan masa depannya, mengapa pada akhirnya ia memilih Naokii? Jawabannya sebenarnya jauh lebih sederhana sekaligus lebih dalam: Nagi tidak memilih Naokii karena mahkotanya, tetapi karena perempuan di balik mahkota itu.
- Bukan Karena Ia Seorang Pewaris Kekaisaran.
Naokii adalah seorang pewaris Kekaisaran Veyircon, seseorang yang sejak lahir telah membawa nama keluarga Veyi, kekuatan besar, serta tanggung jawab yang mungkin tidak akan pernah bisa dipahami oleh orang biasa. Namun bagi Nagi, semua gelar tersebut bukanlah alasan mengapa ia jatuh cinta kepadanya. Ia mencintai Naokii sebagai Naokii.
Jika seluruh gelar kerajaan itu dilepaskan, jika mahkota tidak lagi berada di atas kepalanya, jika ia bukan seorang calon penguasa dan hanya menjadi seorang gadis biasa, Nagi tetap akan memilihnya. Karena sejak mereka masih kecil, Nagi telah mengenal sisi Naokii yang tidak selalu bisa dilihat oleh orang lain. Ia mengenal gadis yang bisa begitu lembut, peduli, dan penuh perhatian kepada orang-orang yang disayanginya. Ia juga mengenal Naokii yang kuat, berani, cerdas, mampu mengambil keputusan sulit, dan bersedia mengorbankan dirinya demi orang lain.
Bahkan sisi Naokii yang mungkin terlihat tidak berhubungan dengan seorang calon penguasa pun menjadi sesuatu yang Nagi sukai. Ia menyukai Naokii ketika sedang menjadi dirinya sendiri. Ia menyukai kecintaannya terhadap seni, bagaimana Naokii menikmati singing, acting, dan dancing, serta bagaimana perempuan yang dikenal sebagai pewaris Kekaisaran itu masih mampu menemukan kebahagiaan melalui hal-hal yang sederhana. Bagi Nagi, justru bagian-bagian kecil seperti itulah yang membuat Naokii menjadi seseorang yang tidak tergantikan.
- Nagi Jatuh Cinta kepada Seseorang yang Benar-Benar Ia Kenal.
Salah satu alasan hubungan mereka terasa berbeda adalah karena Nagi tidak mencintai bayangan Naokii yang ia ciptakan sendiri. Ia mencintai Naokii yang benar-benar ia kenal.
Mereka telah melewati begitu banyak waktu bersama sejak kecil. Nagi melihat bagaimana Naokii tumbuh, bagaimana dirinya belajar menggunakan kekuatan, bagaimana ia menghadapi tanggung jawab, bagaimana ia memperlakukan orang lain, bahkan bagaimana ekspresinya berubah ketika ada sesuatu yang mengganggunya. Sebaliknya, Naokii juga mengenal Nagi dengan cara yang sama dalamnya.
Perasaan Nagi tidak muncul dalam satu malam. Di dalam cerita, Naokii sudah mulai menyadari perasaannya kepada Nagi ketika berusia empat tahun, sementara Nagi mulai benar-benar memahami bahwa perasaannya bukan sekadar persahabatan ketika berusia sekitar sembilan tahun. Salah satu hal yang membuatnya menyadari perbedaan tersebut adalah ketika ia melihat bagaimana dirinya menulis surat kepada Naokii dibandingkan ketika menulis kepada teman-temannya yang lain.
Kemudian, ketika ulang tahun Nagi yang ke-10 tiba, Naokii memberikan sebuah hadiah yang dibuat khusus untuknya: sebuah pedang yang diciptakan menggunakan kekuatannya sendiri. Hadiah tersebut bukan sekadar senjata. Naokii memikirkan bagaimana benda itu harus dibuat khusus untuk Nagi, bahkan menghabiskan waktu untuk memastikan setiap detailnya sesuai.
Hal-hal seperti inilah yang membuat perasaan Nagi semakin jelas. Karena cinta mereka bukan hanya dibangun melalui kata-kata besar, tetapi melalui waktu, perhatian, hadiah, perlindungan, dan tindakan-tindakan kecil yang menunjukkan bahwa mereka saling mengingat satu sama lain.
- “Aku Pantas untuknya, Tetapi Apakah Dia Menginginkanku?”
Menariknya, Nagi tidak melihat dirinya sebagai seseorang yang tidak pantas berada di sisi Naokii. Ia justru merasa bahwa dirinya mampu berdiri di samping Naokii. Ia adalah pewaris Klan Asuka, seorang petarung yang dipersiapkan untuk melindungi Kekaisaran, dan seseorang yang sejak kecil telah memiliki hubungan yang sangat dekat dengannya.
Masalahnya bukan pada keyakinan Nagi terhadap dirinya sendiri.
Masalahnya adalah ia tidak yakin bahwa Naokii menginginkannya dengan cara yang sama.
Di situlah perasaan Nagi menjadi jauh lebih menyakitkan. Ia mampu melindungi Naokii, mampu berdiri di sampingnya, dan bahkan bersedia mempertaruhkan banyak hal demi dirinya. Namun, ia tetap memiliki keraguan terhadap satu hal yang paling penting: apakah Naokii melihatnya sebagai seseorang yang bisa dicintai, atau hanya sebagai sahabat dan pelindung yang sudah berada di sisinya sejak kecil?
Terlebih lagi, ada sesuatu yang jauh lebih besar yang berdiri di antara mereka: aturan kuno Veyi dan Asuka. Asuka ditakdirkan menjadi pelindung keluarga Veyi, bukan pasangan mereka. Aturan tersebut membuat Nagi bukan hanya takut terhadap konsekuensi bagi dirinya sendiri. Yang paling ia takutkan adalah Naokii yang harus menanggung akibat dari perasaan mereka.
Karena bagi Nagi, mencintai Naokii bukanlah sesuatu yang membuatnya takut.
Kehilangan Naokii dan melihatnya terluka karena dirinya itulah yang membuatnya takut.
- Cinta yang Tidak Hanya Diucapkan, tetapi Dilakukan.
Kalau harus menggambarkan cara Nagi mencintai Naokii, mungkin jawabannya adalah tindakan.
Ia memperhatikan hal-hal kecil tentang Naokii. Ia mengingat apa yang disukai Naokii, memberikan acts of service, menghabiskan quality time bersamanya, serta berusaha selalu berada di dekatnya ketika ia membutuhkan seseorang. Hubungan mereka sendiri berkembang melalui berbagai bentuk kasih sayang: kata-kata, sentuhan, hadiah, surat, perlindungan, pengorbanan, hingga kebiasaan-kebiasaan kecil sehari-hari.
Namun yang membuat hubungan mereka semakin menarik adalah kenyataan bahwa Naokii juga melakukan hal yang sama kepada Nagi. Ia bukan perempuan yang hanya menerima perlindungan. Naokii juga sangat protektif terhadap Nagi dan mampu membalas perhatian Nagi dengan caranya sendiri.
Karena itulah Nagi memilih Naokii.
Bukan hanya karena Naokii kuat.
Bukan hanya karena Naokii cantik.
Bukan karena Naokii adalah calon penguasa.
Tetapi karena di balik semua kekuatan, gelar, tanggung jawab, dan takdir tersebut, Nagi melihat seorang perempuan yang telah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil seseorang yang ia kenal, ia pahami, ia kagumi, dan ingin terus ia lindungi.
Dan mungkin itulah alasan mengapa hubungan mereka dapat disebut sebagai sebuah Starcrossed Love. Mereka tidak kekurangan cinta. Justru sebaliknya, mereka memiliki terlalu banyak alasan untuk saling mencintai, sementara dunia mereka memiliki terlalu banyak alasan untuk memisahkan mereka.
- Fun Fact: Setelah Menikah, Mereka Sering Menghibur Satu Kota.

Ada satu fun fact tentang Naokii dan Nagi yang mungkin terdengar sangat berbeda dari konflik besar dalam kisah mereka.
Sesekali, sekitar satu bulan sekali setelah mereka menikah, Naokii dan Nagi akan membuat pertunjukan kecil di tengah alun-alun kota Kekaisaran Veyircon.
Dan yang menarik, pertunjukan tersebut gratis untuk semua orang.
Mereka bisa melakukan dancing, singing, acting, atau bahkan mencampurkan ketiganya menjadi satu pertunjukan. Tidak ada tiket mahal, tidak ada acara kerajaan yang terlalu formal, dan tidak ada tujuan politik di baliknya. Mereka hanya ingin bersenang-senang bersama, sekaligus memberikan hiburan kepada masyarakat Kekaisaran Veyircon.
Bagi warga, tentu saja melihat Permaisuri Naokii dan Kaisar Konsort Nagi tampil secara langsung di tengah alun-alun bukanlah sesuatu yang terjadi setiap hari. Sementara bagi Naokii dan Nagi, itu menjadi salah satu cara mereka menikmati kehidupan bersama setelah semua tanggung jawab besar yang mereka pikul.
Mungkin setelah seharian menghadapi urusan Kekaisaran, rapat, kewajiban kerajaan, dan berbagai masalah yang jauh lebih serius, mereka hanya ingin melakukan sesuatu yang sederhana:
menari bersama, bernyanyi bersama, berakting bersama, lalu melihat seluruh alun-alun dipenuhi warga yang menikmati pertunjukan mereka.
Dan justru hal kecil seperti itulah yang menggambarkan hubungan mereka dengan sempurna.
Karena pada akhirnya, Nagi tidak memilih Naokii hanya untuk berdiri di samping seorang Permaisuri. Ia memilih perempuan yang bisa menjadi pasangan hidupnya, sahabatnya, tempat ia pulang, sekaligus seseorang yang masih bisa mengajaknya bersenang-senang di tengah alun-alun kota.
Itulah alasan Nagi memilih Naokii.
Bukan karena mahkota.
Bukan karena takdir.
Bukan karena kewajiban.
Tetapi karena dari sekian banyak orang yang bisa ia pilih, hanya Naokii yang membuat hatinya berkata: “Aku ingin tetap bersamamu.”
ARTIKEL KEMARIN TENTANG ”Mamoru Veyi dan Aridna Asuka: Dua Saudara di Balik Naokii dan Nagi” : https://pkl.web.id/mamoru-veyi-dan-aridna-asuka-dua-saudara-di-balik-naokii-dan-nagi-by-sinta-bela/





