Perkembangan teknologi membuat dunia seni mengalami perubahan yang sangat cepat. Saat ini, banyak orang mulai menggunakan perangkat digital seperti tablet, komputer, dan berbagai aplikasi untuk membuat karya. Kehadiran Digital Art juga membuat proses menggambar menjadi lebih praktis karena artist dapat menggunakan berbagai fitur seperti layer, brush, undo, hingga color adjustment. Melihat perkembangan tersebut, muncul pertanyaan yang cukup menarik: apakah Traditional Art akan hilang di era digital?

Menurut aku, jawabannya adalah tidak.

Traditional Art memang menghadapi perubahan karena semakin banyak orang mengenal dan menggunakan media digital, tetapi bukan berarti seni tradisional akan berhenti berkembang. Traditional Art dan Digital Art memiliki karakter yang berbeda, sehingga keduanya tidak harus saling menggantikan. Selama masih ada orang yang menikmati proses menggambar menggunakan pensil, pena, cat, kuas, kanvas, maupun kertas, Traditional Art akan tetap memiliki tempat di dunia seni.

Salah satu hal yang membuat Traditional Art tetap menarik adalah proses pembuatannya yang dilakukan secara langsung menggunakan tangan dan media fisik. Ketika seorang artist menggambar menggunakan pensil di atas kertas, setiap tekanan tangan dapat menghasilkan garis yang berbeda. Begitu juga ketika menggunakan cat dan kuas, setiap sapuan dapat memberikan tekstur yang unik. Kesalahan kecil dalam proses menggambar pun dapat menjadi bagian dari karakter sebuah karya.

Hal tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan ketika menggambar secara digital. Dalam Digital Art, kita dapat dengan mudah menghapus kesalahan menggunakan fitur undo, memindahkan objek menggunakan transform, atau mengubah warna tanpa harus merusak gambar asli. Kemudahan tersebut tentu sangat membantu artist, tetapi bukan berarti proses tradisional menjadi tidak bernilai.

Justru, perbedaan tersebut yang membuat Traditional Art tetap mempunyai daya tariknya sendiri.

Gambar tersebut (gambar aku) dapat menjadi contoh bahwa karya yang dibuat secara manual masih mempunyai karakter dan nilai tersendiri. Setelah itu, kamu juga dapat menunjukkan karya Digital Art milikmu sebagai perbandingan.

Dari kedua karya tersebut (gambar aku juga), kita dapat melihat bahwa perbedaan media tidak membuat salah satunya menjadi lebih tidak penting. Keduanya merupakan cara yang berbeda untuk menyampaikan ide dan kreativitas seorang artist.

Perkembangan Digital Art juga sebenarnya tidak selalu menjadi ancaman bagi Traditional Art. Teknologi dapat menjadi alat yang membantu seni tradisional untuk berkembang lebih luas. Karya yang dibuat menggunakan pensil atau cat sekarang dapat difoto, dipindai, kemudian dibagikan melalui media sosial dan platform digital. Artinya, teknologi justru dapat membantu karya tradisional dikenal oleh lebih banyak orang.

Selain itu, seorang artist juga tidak harus memilih hanya satu media. Artist dapat mempelajari Traditional Art sekaligus Digital Art. Kemampuan menggambar menggunakan media tradisional bahkan dapat membantu ketika seseorang mulai belajar menggambar secara digital. Dasar seperti anatomi, perspektif, komposisi, pencahayaan, bentuk, dan warna tetap diperlukan dalam kedua media tersebut.

Karena itu, menurut saya, yang berubah bukan keberadaan Traditional Art, tetapi cara manusia menciptakan, menikmati, dan memperkenalkan karya seni.

Dulu, sebuah gambar mungkin hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang berada di sekitar artist atau tempat karya tersebut dipamerkan. Sekarang, sebuah lukisan yang dibuat di atas kanvas dapat difoto dan dibagikan ke seluruh dunia hanya dalam beberapa detik. Seorang artist tradisional dari Indonesia bahkan dapat menunjukkan karyanya kepada orang dari negara lain tanpa harus membawa lukisan tersebut ke tempat yang jauh.

Hal ini menunjukkan bahwa era digital tidak selalu menghilangkan seni tradisional, tetapi dapat memberikan ruang baru untuk memperkenalkannya.

Menurut saya, hal yang lebih penting untuk dilakukan oleh seorang artist bukanlah memilih mana yang harus bertahan, tetapi terus belajar dan mengembangkan kemampuan. Jika menyukai Traditional Art, teruslah menggambar menggunakan media tradisional. Jika menyukai Digital Art, teruslah mengembangkan kemampuan digital. Bahkan jika menyukai keduanya, tidak ada salahnya untuk mempelajari kedua media tersebut secara bersamaan.

Teknologi akan terus berkembang. Aplikasi menggambar akan semakin canggih, perangkat digital akan semakin mudah digunakan, dan Artificial Intelligence atau AI juga akan semakin banyak digunakan dalam dunia kreatif. Namun, perkembangan tersebut tidak otomatis membuat Traditional Art kehilangan nilainya.

Selama manusia masih memiliki keinginan untuk menggambar dan menciptakan sesuatu dengan tangannya sendiri, Traditional Art tidak akan hilang.

Menurut saya, justru di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, karya tradisional bisa terasa semakin menarik karena memberikan sesuatu yang berbeda. Ketika hampir semua hal dapat dibuat menggunakan teknologi, sebuah karya yang memperlihatkan goresan tangan, tekstur kertas, sapuan kuas, dan proses manual dapat memiliki daya tarik tersendiri.

Jadi, apakah Traditional Art akan hilang di era digital? Tidak.

Traditional Art mungkin akan terus mengalami perkembangan dan beradaptasi dengan zaman, tetapi nilainya sebagai bentuk seni tidak akan hilang hanya karena Digital Art semakin populer. Traditional Art dan Digital Art dapat hidup berdampingan, karena masing-masing mempunyai keunikan yang tidak harus dibandingkan.

Pada akhirnya, bukan alat yang menentukan apakah sebuah karya itu bagus atau tidak, tetapi bagaimana seorang artist menggunakan kreativitas, kemampuan, dan pengalamannya untuk menghasilkan karya tersebut.

Pensil dan tablet bisa menjadi alat yang berbeda, tetapi keduanya tetap berada di tangan seorang artist yang sama-sama ingin menciptakan karya.

ARTIKEL KEMARIN TENTANG ”AI sebagai Media Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Digital Art” : https://pkl.web.id/wp-admin/post.php?post=15604&action=editÂ