Sebelum sebuah cerita memiliki banyak halaman, karakter, dan berbagai kejadian di dalamnya, biasanya ada satu hal yang harus ditemukan terlebih dahulu: judul.
Bagi saya, judul bukan hanya nama yang diletakkan di sampul buku. Saya ingin judul tersebut punya hubungan dengan cerita dan memiliki alasan kenapa akhirnya dipilih.
Begitu juga dengan Ketika Playlist Menjadi Rumah.
Judul ini bukan berasal dari kisah hidup saya. Novel ini adalah cerita fiksi yang saya buat. Namun, ada satu hal yang memang cukup dekat dengan saya, yaitu musik.
Saya termasuk orang yang suka mendengarkan lagu, terutama ketika suasana sedang terasa sepi. Bukan berarti setiap lagu memiliki cerita pribadi di baliknya, tetapi musik memang bisa membuat suasana yang sepi terasa sedikit berbeda.
Dari hal sederhana itulah, saya mulai tertarik dengan ide tentang playlist dan perasaan.
Berawal dari Sebuah Pertanyaan
Saya mulai membayangkan bagaimana kalau ada seseorang yang menjadikan musik sebagai bagian penting dari kehidupannya.
Bukan hanya mendengarkan lagu karena suka.
Bukan hanya membuat playlist karena sedang mengikuti tren.
Tetapi benar-benar memiliki hubungan yang dekat dengan lagu-lagu yang ia dengarkan.
Lalu muncul sebuah pertanyaan:
Bagaimana kalau playlist bisa terasa seperti tempat untuk pulang?
Dari pertanyaan sederhana itu, perlahan muncul konsep yang akhirnya berkembang menjadi Ketika Playlist Menjadi Rumah.
Saya mulai membayangkan seorang tokoh yang memiliki banyak playlist untuk berbagai suasana. Ada playlist yang menemani hari-hari biasa, ada yang didengarkan ketika sedang ingin sendiri, dan ada pula yang akhirnya memiliki kenangan tertentu.
Tokoh tersebut kemudian menjadi Naya.

Terkadang, sebuah cerita dimulai dari satu pertanyaan sederhana.
Kenapa “Playlist”?
Kata pertama yang membuat judul ini terasa berbeda adalah “playlist”.
Saya memilih kata tersebut karena playlist menurut saya punya sesuatu yang menarik.
Satu playlist bisa berisi banyak lagu, tetapi setiap lagu bisa membawa suasana yang berbeda.
Kita bisa membuat playlist berdasarkan genre, suasana hati, perjalanan, atau bahkan sesuatu yang sebenarnya sulit dijelaskan.
Hal itulah yang ingin saya bawa ke dalam cerita.
Playlist menjadi salah satu cara Naya berhubungan dengan musik dan perasaannya.
Ketika sedang merasa sepi, musik bisa menjadi sesuatu yang menemaninya.
Ketika sedang senang, ada lagu yang ingin didengarkan berulang kali.
Dan ketika suatu hari sebuah lagu memiliki kenangan tertentu, lagu tersebut tidak lagi terasa sama seperti sebelumnya.
Menurut saya, hal seperti itu cukup menarik untuk dimasukkan ke dalam sebuah cerita.
Karena musik bisa menjadi bagian dari sebuah momen tanpa kita sadari.
Lalu, Kenapa “Rumah”?
Kalau “playlist” menjadi bagian yang berhubungan dengan musik, lalu kenapa saya memilih kata “rumah”?
Karena saya ingin menggunakan kata rumah bukan hanya sebagai tempat tinggal.
Rumah bisa berarti tempat di mana seseorang merasa nyaman.
Tempat untuk beristirahat.
Tempat untuk menjadi diri sendiri.
Dan bagi Naya, musik memiliki sedikit perasaan seperti itu.
Ketika suasana terasa terlalu ramai, ia bisa kembali kepada musik.
Ketika ia ingin sendiri, ada playlist yang bisa menemaninya.
Bukan karena musik dapat menyelesaikan semua masalah, tetapi karena terkadang kita memang hanya membutuhkan sesuatu yang menemani.
Itulah yang membuat saya merasa kata “rumah” cocok untuk cerita ini.

Rumah bukan selalu tentang tempat. Kadang, rumah adalah sesuatu yang membuat kita merasa nyaman untuk kembali.
Ketika Playlist Menjadi Rumah
Setelah memikirkan dua kata tersebut, saya mencoba menggabungkannya.
Playlist.
Rumah.
Kemudian menjadi:
Ketika Playlist Menjadi Rumah.
Saya menyukai bagaimana judul ini terdengar seperti sebuah kalimat yang sederhana, tetapi masih menyimpan pertanyaan.
Bagaimana sebuah playlist bisa menjadi rumah?
Apa yang terjadi sampai seseorang merasa senyaman itu dengan musik?
Dan sebenarnya, apa arti “rumah” bagi seseorang?
Saya ingin pertanyaan-pertanyaan kecil tersebut membuat pembaca penasaran sebelum membaca ceritanya.
Bukan Cerita Tentang Kehidupan Saya
Karena ada unsur musik dan perasaan di dalamnya, mungkin ada yang mengira bahwa Ketika Playlist Menjadi Rumah merupakan cerita yang terinspirasi langsung dari pengalaman pribadi saya.
Sebenarnya tidak.
Novel ini adalah cerita fiksi.
Saya memang suka mendengarkan lagu ketika suasana terasa sepi, tetapi kehidupan Naya bukan kehidupan saya.
Naya memiliki cerita, sifat, kebiasaan, dan perjalanan yang saya buat sendiri untuk kebutuhan novel.
Pengalaman sederhana saya dengan musik hanya membuat saya lebih mudah memahami bagaimana rasanya ketika sebuah lagu bisa menemani suasana tertentu.
Selebihnya, cerita Naya berkembang menjadi dunianya sendiri.
Saya Ingin Judulnya Bisa Punya Arti yang Berbeda
Hal lain yang saya sukai dari judul ini adalah setiap orang bisa memiliki pemahaman yang berbeda.
Bagi Naya, playlist mungkin menjadi tempat untuk menyimpan perasaan dan kenangan.
Tetapi bagi pembaca, kata “rumah” bisa memiliki arti yang lain.
Mungkin rumah adalah keluarga.
Mungkin sahabat.
Mungkin sebuah tempat yang membuat nyaman.
Atau mungkin sesuatu yang sederhana seperti lagu yang selalu ingin didengarkan ketika sedang sendirian.
Saya tidak ingin menentukan bahwa hanya ada satu arti dari kata “rumah” dalam cerita ini.
Justru saya ingin pembaca menemukan arti mereka sendiri.
Dari Judul Menjadi Sebuah Cerita
Pada akhirnya, Ketika Playlist Menjadi Rumah tidak hanya berhenti sebagai sebuah judul.
Setelah judulnya ditemukan, saya mulai membangun cerita di dalamnya.
Muncul Naya dengan dunianya.
Muncul Kael dan karakter-karakter lain yang kemudian mengisi perjalanan cerita.
Muncul berbagai playlist, percakapan, persahabatan, dan kejadian-kejadian yang membuat dunia mereka perlahan terbentuk.
Semua berawal dari sesuatu yang sebenarnya cukup sederhana.
Musik.
Lalu sebuah pertanyaan tentang bagaimana jika playlist bisa menjadi tempat untuk pulang.
Dan dari situlah Ketika Playlist Menjadi Rumah mulai menemukan bentuknya.
Mungkin setiap orang memiliki cara sendiri untuk menghadapi suasana sepi.
Ada yang memilih membaca.
Ada yang menonton film.
Ada yang mengobrol dengan teman.
Dan ada juga yang memilih memasang lagu lalu membiarkannya menemani.
Bagi saya, hal sederhana seperti itu ternyata bisa menjadi awal dari sebuah cerita.
Dan mungkin, itulah sedikit cerita di balik judul Ketika Playlist Menjadi Rumah.
Kalau kamu ingin tahu lebih jauh tentang Mengenal Tokoh dan Karakter dalam Ketika Playlist Menjadi Rumah, aku juga sudah membahasnya di artikel sebelumnya. Kamu bisa membacanya melalui link di bawah ini 👇🏻:
https://pkl.web.id/mengenal-tokoh-dan-karakter-dalam-ketika-playlist-menjadi-rumah-oleh-naailah/


