- Nagi Veyi dan Sumpah Kesetiaan kepada Sang Permaisuri.
Dalam sebuah kisah cinta, janji terkadang hanya berupa kata-kata. Namun, di dunia A Husband’s Oath to His Wife, ada sebuah janji yang jauh lebih dalam daripada sekadar mengatakan “aku akan selalu bersamamu.” Janji tersebut bahkan dapat menjadi ikatan yang tidak bisa diputuskan oleh orang yang mengucapkannya sendiri.
Itulah yang membuat hubungan Nagi Veyi dan Naokii Veyi menjadi begitu menarik. Setelah menikah dengan Naokii, Nagi bukan hanya menjadi suami sang Permaisuri. Ia juga menjadi pelindungnya, consort-nya, kesatria Kekaisaran, Tuan Klan Asuka, sekaligus seseorang yang memilih untuk menempatkan Naokii di atas dirinya sendiri.
Dan di balik semua itu, terdapat sebuah sumpah yang menjadi salah satu alasan mengapa judul A Husband’s Oath to His Wife memiliki makna yang sangat personal.
- Sumpah yang Lebih dari Sekadar Janji Cinta.
Bagi Nagi, sumpah kepada Naokii bukan hanya tentang kesetiaan. Sumpah itu mencakup keinginannya untuk selalu berada di sisi Naokii, melindunginya, mendampinginya, serta tetap setia kepadanya.
Menariknya, sumpah tersebut sebenarnya merupakan sesuatu yang Nagi lakukan secara pribadi kepada Naokii, bukan kewajiban resmi yang diperintahkan oleh Kekaisaran. Namun, karena sumpah tersebut berkaitan dengan Keluarga Veyi, seluruh Kekaisaran mengetahui bahwa Nagi telah memberikan sumpahnya.
Di dunia mereka, seseorang yang bersumpah kepada anggota Keluarga Veyi akan menjadi eternal companion bagi orang yang disumpahinya. Artinya, kehidupannya setelah sumpah akan lebih banyak didedikasikan untuk mendampingi orang tersebut. Orang yang disumpahi menjadi prioritas, bahkan di atas keluarga maupun dirinya sendiri.
Karena itulah sumpah tersebut bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh.
Dan bagi Nagi, pilihan itu tidak terasa seperti pengorbanan yang harus dipaksakan. Ia memang memilih Naokii.
Bahkan jika ia harus memilih antara status, keluarga, Klan Asuka, atau Naokii, pilihan Nagi tetap sama.
Naokii.
Satu hal yang membuat sumpah ini semakin serius adalah bahwa orang yang memberikan sumpah tidak dapat membatalkan atau menghancurkan sumpahnya sendiri. Hanya orang yang menerima sumpah tersebut yang memiliki kemampuan untuk membatalkannya.
Dengan kata lain, setelah Nagi memberikan sumpah itu kepada Naokii, keputusan tersebut bukan lagi sesuatu yang bisa ia tarik kembali sesuka hatinya.
- Bloodseal dan Ikatan yang Tidak Bisa Dianggap Main-Main.
Sumpah tersebut berkaitan dengan Imperial Blood Oath, sebuah perjanjian yang mengikat Keluarga Kerajaan Veyi dengan seseorang yang bersumpah setia kepada mereka.
Orang yang disumpahi harus berasal dari Keluarga Veyi, sementara siapa pun dapat menjadi orang yang memberikan sumpah.
Ketika sumpah dilakukan, anggota garis keturunan Veyi memberikan sebuah Bloodseal kepada orang yang bersumpah. Penerima dapat memilih simbol yang akan diukir pada Bloodseal tersebut, sehingga setiap tanda memiliki keunikannya sendiri.
Namun, ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan di balik Bloodseal tersebut.
Darah Veyi bersifat beracun.
Saat sumpah dilakukan, darah Veyi akan mengukir tanda pada tubuh orang yang bersumpah. Tanda tersebut dapat disembunyikan, tetapi proses pembentukannya bukan sekadar simbol biasa. Darah Veyi akan masuk ke dalam sel dan saluran tubuh orang tersebut, kemudian membeku di dalamnya.
Jika sumpah dilanggar, darah yang sebelumnya membeku akan berubah menjadi panas dan mulai meracuni orang yang bersumpah.
Karena itu, setiap tier dari Imperial Blood Oath memiliki konsekuensi yang sangat serius kematian apabila sumpah dilanggar.
Imperial Blood Oath sendiri memiliki empat tingkatan:
- Tier I: Blood of Loyalty : tingkat terendah, yang memungkinkan penguasa mendeteksi pengkhianatan serius berupa tindakan agresi mematikan secara langsung.
- Tier II: Blood of Devotion : memungkinkan penguasa merasakan ketika orang yang bersumpah sengaja bertindak melawan keselamatan fisiknya.
- Tier III: Blood of Allegiance : memungkinkan penguasa merasakan pengkhianatan verbal yang disengaja atau ucapan jahat yang ditujukan kepadanya.
- Tier IV: Blood of Absolute Loyalty : tingkatan tertinggi, yang memungkinkan penguasa merasakan niat dan pikiran pemegang sumpah mengenai kesetiaannya.

Nagi memilih Tier IV untuk Naokii.
Bukan karena Naokii memaksanya.
Bukan karena Kekaisaran memerintahkannya.
Tetapi karena Nagi memang memiliki kesetiaan sedalam itu kepada Naokii.
Dan justru karena Tier IV merupakan bentuk sumpah yang paling kuat, pilihan Nagi terasa jauh lebih bermakna.
- Nagi Veyi: One-Sword Consort Sang Permaisuri.
Setelah menikah dengan Naokii, Nagi tidak kehilangan identitasnya sebagai bagian dari Klan Asuka. Ia tetap menjadi Tuan Klan Asuka, tetapi di sisi Naokii ia juga memiliki berbagai peran sekaligus: suami Permaisuri, consort, kesatria Kekaisaran, dan pelindung pribadi Naokii.
Di sinilah istilah One-Sword Consort menjadi penting.
Nagi merupakan kesatria sekaligus satu-satunya suami consort Naokii. Naokii tidak menerima selir, sehingga Nagi adalah satu-satunya orang yang memegang posisi tersebut di sisinya.
Namun, posisi Nagi bukan hanya tentang gelar.
Ia tetap menjadi seseorang yang berada di sisi Naokii ketika menjalankan kehidupan sebagai Permaisuri. Statusnya memberinya peran dalam lingkungan politik sekaligus tanggung jawab untuk mendampingi dan melindungi Naokii.
Dan meskipun Nagi memiliki kedudukan, keluarga, serta tanggung jawabnya sendiri, ada satu hal yang tidak berubah:
Jika harus memilih, Nagi akan memilih Naokii.
Itulah yang membuat sumpahnya terasa sangat lovestruck. Nagi bukan sekadar seseorang yang mengatakan bahwa ia mencintai istrinya. Ia benar-benar mengikat hidupnya dengan orang yang ia cintai.
Sementara itu, Naokii sendiri tidak memberikan sumpah yang sama kepada Nagi.
Cara Naokii menunjukkan cintanya juga berbeda. Jika Nagi lebih sering mengungkapkan perlindungan melalui kata-kata dan tindakan yang terlihat, Naokii cenderung melindungi Nagi secara diam-diam melalui tindakan.
Jadi, meskipun sumpah resmi hanya datang dari Nagi, hubungan mereka tetap berjalan dua arah.
Nagi melindungi Naokii. Naokii juga melindungi Nagi.
Fun Fact: Nagi ternyata sudah pernah memberikan Imperial Blood Oath sebelum bersumpah kepada Naokii. Ia memberikan Tier II: Blood of Devotion kepada ayah Naokii, Hikaru Veyi, dengan Bloodseal di mata kirinya. Sementara itu, sumpah Tier IV: Blood of Absolute Loyalty kepada Naokii berada di mata kanannya. Jadi, kedua mata Nagi menyimpan dua sumpah kepada anggota Keluarga Veyi yang berbeda, dengan Naokii menerima tingkatan tertinggi.
- Sebuah Sumpah yang Membuat Judul Novel Menjadi Lebih Bermakna.
Ada alasan sederhana mengapa novel ini diberi judul A Husband’s Oath to His Wife.
Judul tersebut memang secara langsung merujuk kepada sumpah Nagi kepada Naokii.
Aku memilih judul itu karena terdengar poetic dan romantic, tetapi di balik kalimat sederhananya terdapat gambaran tentang hubungan mereka: seorang suami yang begitu devoted kepada istrinya hingga bersedia mengikat dirinya secara abadi kepadanya.
Dan justru karena sumpah tersebut dilakukan setelah mereka menikah, maknanya terasa semakin personal.
Ini bukan kisah tentang seseorang yang memberikan sumpah karena kewajiban politik.
Ini adalah kisah tentang seorang suami yang telah memilih istrinya, kemudian berkata dalam caranya sendiri bahwa ia akan tetap bersamanya, setia kepadanya, mendampinginya, dan menempatkan dirinya di sisinya.
Yang menarik, Naokii sendiri bahkan tidak mengetahui bahwa Nagi akan melakukan sumpah tersebut.
Ketika mengetahui apa yang telah Nagi lakukan, Naokii tentu memiliki keraguan. Namun pada akhirnya, ia tetap mempercayai Nagi.
Mungkin itulah inti hubungan mereka.
Bukan sekadar tentang siapa yang lebih kuat.
Bukan sekadar tentang siapa yang melindungi siapa.
Tetapi tentang kepercayaan kepada seseorang yang telah memilih untuk tetap tinggal.
Dan jika satu kata harus digunakan untuk menggambarkan sumpah Nagi kepada Naokii, mungkin kata itu adalah:
Lovestruck.
Karena bagi Nagi, sumpah tersebut bukan hanya tentang darah, Bloodseal, atau sebuah aturan Kekaisaran.
Itu adalah pilihan untuk memberikan dirinya kepada orang yang ia cintai.
Dan ketika seorang suami memberikan sumpah seperti itu kepada istrinya…
seberapa jauh sebenarnya ia bersedia pergi demi menepatinya?
Itulah salah satu hal yang bisa ditemukan dalam A Husband’s Oath to His Wife.
ARTIKEL KEMARIN TENTANG ”Naokii Veyi & Nagi Veyi: Cinta yang Tumbuh Sejak Masa Kanak-Kanak” : https://pkl.web.id/naokii-veyi-nagi-veyi-cinta-yang-tumbuh-sejak-masa-kanak-kanak-by-sinta-bela/



