More
    HomeARTIKEL PERSONAL BRANDINGAI sebagai Media Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Digital Art (Sinta Bela)

    AI sebagai Media Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Digital Art (Sinta Bela)

    Perkembangan Artificial Intelligence (AI) memberikan banyak perubahan dalam dunia seni, khususnya digital art. Saat ini, AI tidak hanya dapat digunakan untuk menghasilkan gambar, tetapi juga bisa dimanfaatkan sebagai media pembelajaran bagi digital artist. Menurut aku, AI akan lebih bermanfaat jika digunakan sebagai teman belajar untuk mencari ide, mencoba berbagai kemungkinan desain, meminta masukan, dan membantu memahami hal-hal yang masih sulit dilakukan saat menggambar. Dengan begitu, AI tidak harus selalu dianggap sebagai alat untuk menggantikan kemampuan seorang artist, tetapi dapat digunakan sebagai alat bantu untuk meningkatkan kemampuan yang sudah dimiliki.

    Sebagai seorang digital artist, terkadang kita memiliki ide yang jelas di dalam kepala, tetapi masih bingung bagaimana cara menerapkannya ke dalam artwork. Misalnya, kita sudah mempunyai karakter sendiri, tetapi ingin mencoba pakaian, warna, aksesori, atau konsep baru. Dalam kondisi seperti ini, AI bisa menjadi teman untuk melakukan eksplorasi. Kita dapat memberikan gambar dan menjelaskan bagian mana yang ingin diubah, kemudian melihat kemungkinan hasilnya. Dari hasil tersebut, kita bisa mempelajari bagaimana sebuah desain pakaian terlihat pada karakter, bagaimana ornamen ditempatkan, bagaimana warna bekerja, atau bagaimana bentuk pakaian mengikuti pose karakter. Jadi, yang dipelajari bukan hanya hasil gambarnya, tetapi juga proses berpikir di balik sebuah desain.

    Aku sendiri mencoba menggunakan ChatGPT untuk membantu mengeksplorasi artwork yang sedang aku kerjakan. Aku memberikan referensi karakter dan pakaian, kemudian meminta ChatGPT untuk menempatkan karakter tersebut menggunakan pakaian yang aku inginkan. Aku juga memberikan instruksi agar hairstyle tetap mengikuti artwork asli, karakter laki-laki tidak dibuat menjadi lebih feminin, artstyle tetap dipertahankan, dan yang diubah hanya bagian pakaiannya. Aku juga meminta agar garis pada artwork dibuat sedikit lebih terlihat. Dari percobaan tersebut, aku mendapatkan hasil yang kemudian bisa aku gunakan sebagai bahan pembelajaran dan referensi.

                         ->                     

    Hal yang menarik dari percobaan tersebut adalah aku tidak harus menjadikan hasil AI sebagai artwork final. Aku bisa melihat hasilnya, memperhatikan bagian yang menurut aku bagus, kemudian memikirkan bagaimana cara menggambarkan bagian tersebut dengan kemampuan aku sendiri. Misalnya, aku dapat mempelajari bentuk jubah, susunan detail emas, desain ornamen, bentuk kain, atau perpaduan warna yang digunakan. Kalau ada bagian yang menurut aku kurang cocok, aku juga bisa mengubahnya ketika menggambar ulang. Di sinilah AI dapat menjadi teman belajar bagi seorang artist, karena hasilnya dapat dijadikan bahan untuk melihat kemungkinan yang sebelumnya belum terpikirkan.

    Proses tersebut juga mengajarkan bahwa kemampuan memberikan instruksi kepada AI merupakan bagian dari pembelajaran. Semakin jelas kita menjelaskan apa yang ingin dipertahankan dan apa yang ingin diubah, semakin mudah AI memahami tujuan kita. Dari sini kita bisa belajar mengenali artwork sendiri dengan lebih baik. Kita menjadi lebih sadar mengenai bagian mana yang merupakan ciri khas karakter, mana yang merupakan style kita, serta bagian mana yang masih ingin kita kembangkan. Jadi, menggunakan AI bukan hanya tentang mendapatkan gambar dengan cepat, tetapi juga tentang belajar melihat dan mengevaluasi karya sendiri.

    Namun, menurut aku ada satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan: jangan sampai AI membuat kita berhenti belajar menggambar. Kemudahan AI memang sangat menarik. Hanya dengan memberikan perintah, kita bisa mendapatkan visual dalam waktu yang jauh lebih cepat dibandingkan menggambar semuanya dari awal. Tetapi jika setiap kali mengalami kesulitan kita langsung menyerahkan semuanya kepada AI, kemampuan menggambar kita sendiri bisa tidak berkembang. Kita mungkin mendapatkan gambar yang bagus, tetapi belum tentu memahami anatomi, perspektif, pencahayaan, komposisi, warna, bentuk pakaian, maupun teknik menggambar yang digunakan di dalamnya.

    Karena itu, hasil AI sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang “bagus” atau “jelek”. Cobalah menjadikannya sebagai bahan untuk dianalisis. Ketika melihat hasil AI, kita bisa bertanya, “Kenapa bentuk pakaian ini terlihat bagus?”, “Bagaimana lipatan kainnya dibuat?”, “Kenapa warna ini cocok dengan karakter?”, atau “Bagaimana saya bisa menggambar ulang bagian ini menggunakan style aku sendiri?” Pertanyaan seperti ini jauh lebih berguna untuk perkembangan seorang artist dibandingkan hanya mengambil hasil AI lalu menggunakannya sebagai karya akhir.

    Bagi digital artist maupun traditional artist, AI sebenarnya dapat menjadi alat bantu yang menarik. Artist tradisional juga bisa menggunakannya untuk mencari referensi pose, pakaian, komposisi, pencahayaan, atau konsep sebelum menggambar menggunakan pensil, tinta, cat air, maupun media lainnya. Digital artist dapat menggunakannya untuk mengeksplorasi desain dan mendapatkan gambaran awal. Tetapi setelah mendapatkan referensi, tetap ada proses penting yang harus dilakukan, yaitu menggambar, mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki, dan terus berlatih.

    Menurut aku, karya yang dibuat secara murni dengan kemampuan dan style sendiri tetap mempunyai nilai yang berbeda. Ketika seorang artist menggambar dari sketsa awal sampai menjadi artwork selesai, ada perjalanan yang ikut tersimpan di dalam karya tersebut. Mungkin garis pertama masih berantakan, anatominya sempat salah, warna harus dicoba berkali-kali, atau desain pakaian harus diubah beberapa kali. Tetapi semua proses tersebut adalah bagian dari perkembangan artist. Dari proses itulah seseorang akhirnya menemukan style yang menjadi identitasnya sendiri.

    Style tidak muncul hanya karena kita meminta AI membuat gambar dengan gaya tertentu. Style berkembang dari kebiasaan menggambar, referensi yang dipelajari, kesalahan yang diperbaiki, eksperimen, dan pengalaman selama bertahun-tahun. Setiap artist memiliki cara sendiri dalam menggambar mata, rambut, wajah, tubuh, pakaian, ekspresi, garis, warna, dan detail. Hal tersebut yang membuat karya satu artist berbeda dari artist lainnya. Karena itu, menurut aku, membuat artwork sendiri dengan style yang benar-benar kita bangun tetap terasa lebih keren dan lebih personal.

    AI memang bagus. AI bisa membantu kita mendapatkan ide ketika sedang mengalami creative block. AI bisa membantu kita melihat alternatif desain. AI juga bisa menjadi tempat bertanya ketika kita tidak memahami suatu teknik. Tetapi jangan sampai karena AI bisa melakukan sesuatu dengan cepat, kita menjadi malas untuk mempelajarinya sendiri. Justru gunakan kemudahan AI untuk membuat proses belajar menjadi lebih menarik. Setelah mendapatkan referensi dari AI, cobalah gambar kembali. Setelah melihat desain yang dibuat AI, coba buat versi sendiri. Setelah mendapatkan inspirasi warna, coba eksplorasi kombinasi warna dengan style kita sendiri.

    Pada akhirnya, AI sebaiknya digunakan sebagai guru, bukan sebagai pengganti tangan kita. AI dapat memberikan contoh dan membuka kemungkinan baru, tetapi tangan kitalah yang harus terus dilatih. AI dapat memberikan referensi, tetapi kita yang menentukan bagaimana referensi tersebut diolah menjadi karya. AI dapat membantu ketika kita tidak tahu harus mulai dari mana, tetapi kemampuan untuk menyelesaikan sebuah artwork tetap perlu dibangun melalui latihan.

    Bagi para digital artist dan traditional artist, tidak perlu takut mempelajari AI. Manfaatkan teknologi tersebut dengan bijak sebagai media pembelajaran, teman berdiskusi, sumber referensi, dan alat eksplorasi. Tetapi tetap pertahankan kebiasaan menggambar secara langsung dan terus kembangkan style sendiri. Karena pada akhirnya, kemampuan seorang artist bukan hanya tentang seberapa cepat ia bisa menghasilkan gambar, tetapi juga tentang seberapa jauh ia memahami apa yang sedang ia gambar dan seberapa kuat identitas yang ada di dalam karyanya.

    AI bisa membantu kita belajar menggambar lebih banyak, tetapi jangan biarkan AI menggambar semuanya untuk kita. Gunakan AI untuk membuka pintu ide, lalu gunakan tangan dan kreativitas kita sendiri untuk menciptakan sesuatu yang benar-benar menjadi milik kita.

    Must Read

    spot_img